Hari ini adalah hasil dari rencana kemarin, masa depan adalah rencana hari ini. Tak ada cerita masa lalu tanpa ada sejarah. Tak ada sejarah jika tak ada yang mencatat dan memberi hikmah bagi generasi yang akan datang.

Ulama Haramain

πŸ“† Kamis, 4 Sya'ban 1437H / 12 Mei 2016

πŸ“š SIROH DAN TARIKH

πŸ“ Pemateri: Ust. DR. Wido Supraha

πŸ“ *Peran Ulama Haramain Nusantara Dalam Perkembangan Intelektual di Indonesia* Bag-1

πŸŒΏπŸŒΊπŸ‚πŸ€πŸŒΌπŸ„πŸŒ·πŸ

Terdapat beberapa studi akademis mengulas rekam jejak para ulama terdahulu yang berkontribusi membangun sumber daya insani khususnya di Indonesia, baik ulama lulusan luar negeri maupun lulusan pesantren lokal, seperti studi Azyumardi Azra tentang Jaringan Ulama: Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII; Islam Nusantara: Jaringan Global dan Lokal; Surau: Pendidikan Islam Tradisional dan Tradisi dan Modernisasi (Tesis untuk gelar MA), kajian klasik Snouck Hurgronje tentang Masyarakat dan Ulama Jawi di Mekah pada Akhir Abad ke-19, kajian William Roff tentang Para Pelajar Indonesia dan Malaya di Kairo pada 1920-an, studi awal Jutta E. Bluhm mengenai Hubungan Jurnal (dan Kelompok) Al-Manar Kairo dengan Dunia Melayu Indonesia, kajian von der Mehden mengenai Interaksi antara Asia Tenggara dan Timur Tengah, sampai Abdurrahman Mas'ud yang menuliskan[1] jejak intelektual arsitek pesantren, mengulas secara kritis biografi analitis lima orang ulama Indonesia terkemuka (Syaikh Nawawi al-Bantani, Syaikh Mahfuzh at-Termisi, Kyai Khalil Bangkalan, Kyai R. Asnawi Kudus, dan Hadratus Syaikh Hasyim Asy'ari), yang kesemuanya menggambarkan perkembangan dan bentuk jaringan ulama Nusantara yang terbentuk pada abad ke-17 hingga abad ke-19.

Perjalanan panjang intelektual dan karya-karya yang telah diukir oleh para ulama Indonesia menjadi sumber informasi yang sangat berharga di dalam menyusuri model pemikiran mereka di saat menghadapi perkembangan situasi dan tuntutan zamannya. Menarik juga mengkaji implikasi pemikiran mereka kepada dinamika pemikiran Islam kontemporer dan modernisasi pesantren di Indonesia, apalagi jika dikaitkan dengan posisi dan pengaruh Haramain (Dua Tanah Suci – Makkah dan Madinah) serta pergulatan intelektual yang terdapat di dalamnya terhadap perkembangan intelektual dan dinamika umat Islam di Indonesia. Sebagian besar dari mereka telah menciptakan model-model pendidikan yang unik dan menarik dan tetap relevan di setiap masa, bahkan ditiru oleh kalangan modern saat ini dengan penamaan yang berbeda dan terkesan baru sehingga lebih menarik peminat.

Tentunya di saat pendidikan menjadi kebutuhan masyarakat modern saat ini, dan di saat kesempatan untuk menikmati pendidikan terbaik tidak lagi menjadi hak para murid dengan kelebihan potensi positif, pesantren dapat dijadikan model pendidikan yang tetap relevan sampai kapanpun, termasuk dewasa ini. Kemudahan akses yang diciptakan para kyai dan pesantrennya melahirkan mekanisme keterlibatan semua lapisan masyarakat secara aktif dan sadar. Menjadi tantangan negara dan masyarakat untuk juga bisa menciptakan atmosfer pendidikan yang lebih kondusif, sebagaimana pesantren dapat memberikan akomodasi yang lebih besar bagi para penuntut ilmu pengetahuan tanpa dibebani hambatan biaya dan birokrasi. Pesantren tentu lebih siap di dalam memainkan peran yang lebih sentral untuk mewujudkan program wajib belajar pendidikan tinggi di Indonesia.

Para kyai dan ulama besar tersebut telah diposisikan oleh masyarakatnya sebagai penghubung bagi pandangan dunia, harapan, dan visi para pengikut dan komunitasnya. Dalam komunitas pedesaan, pesantren—sebagai bentengnya kyai—tidak hanya menyediakan tempat dan kesempatan bagi studi teks-teks keagamaan (kitab kuning), tetapi yang lebih penting, mereka mampu tampil sebagai pusat komunikasi bagi segala macam lapisan masyarakat pedesaan, dari yang miskin hingga yang kaya.

Tulisan ini mencoba menyusun rangkaian sejarah perkembangan intelektual para ulama (tentunya kita meyakini jumlah para ulama yang berjasa di negeri kita sangat banyak sekali dan mungkin banyak yang tidak kita kenali karena minimnya informasi), dan kemudian menggambarkan pengaruh para ulama Haramain Nusantara di dalam pengembangan intelektual di Indonesia.

Kehadiran Ulama Nusantara di Haramain

Di akhir abad XVII terjadi perpindahan bangsa-bangsa Barat, yaitu Inggris, Spanyol, dan Portugis dari beberapa kota di Indonesia karena kalah bersaing dengan Belanda. Pada 1663, Spanyol meninggalkan Tidore sehingga wilayah itu jatuh ke tangan Belanda,[2] yang selama ini merupakan rival Spanyol. Bangsa-bangsa Eropa non-Belanda dipaksa untuk meninggalkan Makassar sesuai perjanjian Bongaya.[3] Inggris yang meninggalkan Banten, pada 1864 membangun sebuah benteng dekat Bengkulu untuk mempertahankan posisinya selama lebih dari 150 tahun, sedangkan Portugis terdesak ke Timur untuk selanjutnya menjajah daerah itu selama 300 tahun.[4]

Meskipun keadaan pelayaran niaga ke Timur Tengah dan suasana politik tidak kondusif untuk perjalanan haji, sepanjang abad XVIII masih juga secara sporadis banyak penduduk Nusantara yang mengunjungi Haramain. Bagi sebagian orang, kunjungan itu adalah untuk menuntut ilmu, sebagaimana pada masa permulaan haji, dan bagi sebagian yang lain untuk menunaikan ibadah haji. Kelompok terakhir ini, setelah selesai melaksanakan ibadah haji, biasanya segera kembali ke Nusantara.

Penguasa tradisional pada masa itu memang memiliki kebiasaan dan selalu berusaha untuk mengirimkan para ulamanya ke Makkah, meskipun usaha pengiriman adakalanya gagal. Pada 27 Safar 1192 H./27 Februari 1778 M., penguasa Belanda menolak permintaan Adipati Cianjur dan Tumenggung Buitenzorg (Bogor) untuk masing-masing mengirim seorang ulamanya ke Makkah.[5]

Sosok yang selalu terdengar namanya sebagai pengajar utama di Makkah al-Mukarramah yang memberikan andil langsung dalam pengembangan intelektual para ulama Nusantara Indonesia, yaitu Syaikh Nawawi al-Bantani (1813-1897), dan Syaikh Mahfuzh at-Termisi (w. 1338/1919).

*Nawawi al-Bantani* dilahirkan pada tahun 1230/1813 di Desa Tanara, Kecamatan Tirtayasa, Serang, Banten Jawa Barat, dengan nama lengkap Abu Abdullah al-Mu'thi Muhammad Nawawi bin Umar al-Tanari al-Bantani al Jawi, dan dibesarkan di lingkungan keluarga muslim. Dia meninggal pada tahun 1314/1897, bertepatan dengan meninggalnya Mufti Besar Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, di Makkah, di mana makamnya terletak bersebelahan dengan makam Khadijah, umm al-mu'minin, istri Nabi, yang berada di Ma'la.[6]

Ketika berusia 15 tahun, bersama dua orang saudaranya, Nawawi pergi ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji, dan kemudian bertahan di Kota Suci Makkah untuk menimba ilmu kepada ulama-ulama besar kelahiran Indonesia dan negeri lainnya, seperti Imam Masjid Haram Syaikh Ahmad Khatib Sambas, Abdul Ghani Bima, Yusuf Sumbulaweni, Syaikh Nahrawi, Syaikh Ahmad Dimyati, Ahmad Zaini Dahlan, Muhammad Khatib Hambali, dan Syikh Abdul Hamid Daghestani, selama kurang lebih tiga tahun, baru kemudian ia pulang kembali ke tanah air lalu mengajar di pesantren ayahnya. Karena kondisi dalam negeri yang tidak kondusif, maka beliau kembali ke Tanah Suci, dan menjadi murid yang terpandang di Masjidil Haram. Ketika Syaikh Ahmad Khatib Sambas uzur menjadi Imam Masjidil Haram, Nawawi ditunjuk menggantikannya. Sejak saat itulah ia menjadi Imam Masjidil Haram dengan panggilan Syaikh Nawawi al-Jawi. Laporan Snouck Hurgronje, orientalis yang pernah mengunjungi Makkah di tahun 1884-1885, menyebutkan bahwa Syaikh Nawawi setiap harinya sejak pukul 07.30 – 12.00 memberikan tiga perkuliahan sesuai dengan kebutuhan jumlah muridnya, di antaranya, KH. Kholil Madura, KH. Asnawi Kudus, KH. Tubagus Bakri, KH. Arsyad Thawil dari Banten, dan KH. Hasyim Asy'ari dari Jombang. Paling tidak 34 karya Syaikh Nawawi tercatat dalam Dictionary of Arabic Printed Books dari lebih dari 100 judul karya-karyanya yang meliputi berbagai disiplin ilmu.

Bersambung..

πŸŒΏπŸŒΊπŸ‚πŸ€πŸŒΌπŸ„πŸŒ·πŸπŸŒΉ

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

πŸ’Ό Sebarkan! Raih pahala...

Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jadwal Sholat

Popular Posts

Label

Arsip Blog

Recent Posts

Pages

Blog Archive

Categories