Hari ini adalah hasil dari rencana kemarin, masa depan adalah rencana hari ini. Tak ada cerita masa lalu tanpa ada sejarah. Tak ada sejarah jika tak ada yang mencatat dan memberi hikmah bagi generasi yang akan datang.

  • This is default featured slide 1 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 2 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 3 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 4 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 5 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Kenapa Kamu Harus Hidup?

Kenapa Kamu Harus Hidup?



Aku mempunyai seorang teman, sebut saja namanya Roy. Yah.meskipun dia tidak terlalu tampan & bukan anak orang kaya.., tapi dia adalah seorang teman yang baik, ramah, dan suka menolong. Dia selalu mengutamakan temannya bahkan lebih daripada kepentingan dirinya sendiri. Dia adalah orang yang selalu tersenyum dan tertawa, meski di dalam hatinya aku tahu, ada kesedihan yang dalam, karena di keluarganya dia selalu jadi bahan makian orang tuanya,

orang tuanya selalu mengatakan bahwa dia adalah anak yang bodoh, anak

yang

tidak berguna. Di rumah dia menjadi seorang pemberontak sedang di sekolah

dia berubah menjadi orang yang sangat bahagia, selalu tertawa dan 'agak

berlebihan' dalam mencari perhatian teman-temannya.



Aku mengerti dia melakukannya karena untuk menutupi kesedihannya sewaktu di

rumah. Suatu saat, akhirnya dia memiliki seorang pacar, pacar yang cantik,

baik, & pintar. Roy sangat mencintainya.. Meski demikian, dia tidak pernah

melupakannya teman-temannya seperti kebanyakan orang yang lupa akan

temannya pada saat dia menemukan cintanya Kami masih sering berbicara, dia

menceritakan berbagai hal ttg pacarnya itu, Dia bercerita bahwa masa

pacaran

adalah saat yang paling indah yang pernah dia rasakan dalam hidupnya. Namun

setelah 2 bulan berlalu, dia putus dengan pacarnya itu, karena pacarnya

merasa banyak ketidakcocokan dengannya. Seringkali mereka bertengkar karena

hal yang sepele,Roy lebih sering diatur-atur tentang ini itu oleh pacarnya.

tetapi karena Roy merasa dirinya adalah seorang pria yang keras juga, Roy

tidak mau diatur siapapun, dia seringkali membantah dan marah... Karena

demikian pacarnya memutuskan hubungannya, karena pacarnya sudah tidak bisa

lagi memahami Roy.



Roy pun menyesali atas kelakuannya pada pacarnya dan meminta pacarnya agar

dapat kembali bersamanya. Tetapi keputusan pacarnya sudah bulat. . Roy pun

menceritakan semuanya padaku di telepon, dia berkata, dia tidak bisa hidup

lagi tanpa pacarnya yang bisa menolongnya, menghiburnya, yang selalu ada di

sisinya. Dia mengatakan sudah tidak tahan lagi atas segala masalah yang

terjadi, baik itu masalah dengan pacarnya ataupun masalah dengan

keluarganya, dia berulang kali mengatakan ingin bunuh diri, dia mengatakan

ingin minum racun tikus atau minum pembasmi serangga dan macam-macam. Aku

lalu melarangnya dan berteriak "Jangan!! Jangan bicara seperti itu, kau

tahu

hidupmu sangat berharga," Lalu terdengar tawa kecil yang dipaksakan dan

bernada dingin terdengar di ujung sana, "Yaaa.. Ya... kamu benar."



Lalu kami mematikan telepon, tapi setelah kami berjanji akan langsung

tidur.

Namun aku sama sekali tidak merasa mengantuk. Aku begitu khawatir dan

merasa

akulah satu-satunya harapan Roy. Ia sudah berulang kali mengatakan padaku

bahwa sulit baginya membuka diri kepada siapapun selain kepadaku. Bagaimana

mungkin ada orang yang tak ingin hidup? Aku bahkan bisa membuat daftar

alasan mengapa aku bahagia bisa bangun setiap pagi. Dengan panik aku

memutar

otak mencari cara meyakinkan Roy tentang hal ini. Lalu seolah-olah bola

lampu di kepalaku menyala. Aku mengambil selembar kertas notes dan

memberinya judul, "Mengapa Roy harus Hidup", di bawahnya aku memulai

mendaftarkan semua alasan yang terpikir olehku tentang mengapa seseorang

harus tetap hidup.



Awalnya hanya dimulai dengan beberapa berubah menjadi duapuluh, lalu

tigapuluh, lalu empat puluh tujuh. Hingga tengah malam, aku telah

menuliskan

tujuh puluh tujuh alasan mengapa Roy harus hidup. Sepuluh yang terakhir

adalah sebagai berikut :

67) Di kuburan tidak ada tempat bermain video game.

68) Tuhan mencintaimu.

69) Tanah sedalam 2 meter sangat tidak nyaman dibanding kasurmu.

70) Di kuburan tidak ada restoran Steak yang enak.

71) Pelajaran Kalkulus akan sangat membosankan karena tidak ada kamu.

72) Kau belum memenuhi janjimu yaitu mentraktir Pizza.

73) Kau takkan suka bergaul dengan setan selamanya.

74) Katamu kau ingin mengajakku jalan-jalan ke Amerika.

75) Kau kan belum pernah mengendarai mobil BMW yang selalu kauidamkan.

76) Kau tidak bisa melihat lagi indahnya matahari saat terbenam di pantai.

77) Kau tidak pernah boleh menyesali siapa dirimu, kau hanya boleh

menyesali

apa dirimu sekarang.



Yakin aku telah berusaha sebaik mungkin, aku naik ke ranjang untuk menunggu

pelaksanaan tugas esok hari; menyelamatkan Roy.



Aku menunggunya di pintu ruang kelas, lalu aku serahkan daftar itu saat ia

berjalan masuk. Aku memperhatikan dari sisi lain kelas saat ia membaca

lembaran penuh bekas lipatan di pangkuannya. Aku menunggu, tapi ia tidak

mengangkat mukanya selama satu jam pelajaran.



Setelah pelajaran selesai, aku mendekatinya, khawatir, tapi sebelum aku

sempat berkata-kata, kedua lengannya sudah memelukku erat. Sesaat aku

membalas pelukannya, airmata nyaris membutakanku. Ia melepaskanku dan

dengan

tatapan lembut ke mataku, ia berjalan keluar kelas. Ia tak perlu

mengucapkan

terimakasih, wajahnya sudah mengatakan semuanya.Seminggu kemudian, Roy

pindah ke sekolahan lain supaya bisa tinggal dengan neneknya. Selama

berminggu-minggu aku tak mendengar apa-apa, sampai suatu malam, telepon

berdering, aku mengangkatnya dan aku mendengar suara yang kukenal

sebelumnya. Ia menceritakan bagaimana ia mendapat teman-teman baru di

sekolahnya dan ia mendapatkan nilai-nilainya jauh lebih baik, dan ia masuk

tim sepakbola di sekolahnya.



Lalu dia berkata, "Tapi kau tahu apa yang paling hebat?" aku merasakan

kebahagiaan sejati dalam suaranya.



"Aku tidak menyesali siapa diriku, juga apa diriku yang sekarang." Aku

hanya

bisa mengucapkan syukur, akhirnya dia mengerti.. Mengerti siapa dirinya

yang

sebenarnya.. Untuk apa dia hidup..



Roy sangatlah beruntung, tidak semua orang seberuntung itu pada saat

dirinya

putus asa, ingin melukai diri sendiri, bahkan ingin bunuh diri karena tidak

tahan akan cobaan hidup...Tetapi ingatlah, kamu tidak sendirian dalam

hidup

ini, masih ada teman-temanmu atau keluargamu yang memperhatikanmu,

membutuhkanmu, mencintaimu, dan merasa sangat kehilangan jika kamu mati.

Janganlah kau lupakan mereka... :)



Dari : Temanmu yang sangat mencintaimu :)



Sumber: Unknown (Tidak Diketahui)







Lv,

Puspa





***************************************************************



Tahukah Anda



Jika dirata-ratakan, dalam satu detik diseluruh dunia ada 100 kali loncatan petir, dan hanya 1 yang menghantam bumi. Dalam semenit ada 6000 loncatan petir yang pada umumnya bergerak dari satu mendung ke mendung yang lain.



***************************************************************



Motivasi_Net's Cool Site Of The Day.

diambil dari Search Engine http://www.indocenter.com/



Youth Againts Drugs Abuse

http://www.yadajogja.org

Share:

Hadiah Cinta

HADIAH CINTA



Bisa saya melihat bayi saya?" pinta seorang ibu yang baru melahirkan penuh kebahagiaan. Ketika gendongan itu berpindah ke tangannya dan ia

membuka selimut yang membungkus wajah bayi lelaki yang mungil itu, ibu itu menahan nafasnya. Dokter yang menungguinya segera berbalik memandang ke arah luar jendela rumah sakit. Bayi itu dilahirkan tanpa

kedua belah telinga!



Waktu membuktikan bahwa pendengaran bayi yang kini telah tumbuh menjadi seorang anak itu bekerja dengan sempurna. Hanya penampilannya saja yang tampak aneh dan buruk. Suatu hari anak lelaki itu bergegas pulang ke rumah dan membenamkan wajahnya di pelukan sang ibu yang

menangis. Ia tahu hidup anak lelakinya penuh dengan kekecewaan dan

tragedi. Anak elaki itu terisak-isak berkata, "Seorang anak laki-laki besar mengejekku. Katanya, aku ini makhluk aneh."



Anak lelaki itu tumbuh dewasa. Ia cukup tampan dengan cacatnya. Iapun disukai teman-teman sekolahnya. Ia juga mengembangkan bakatnya di bidang musik dan menulis. Ia ingin sekali menjadi ketua kelas. Ibunya mengingatkan, "Bukankah nantinya kau akan bergaul dengan remaja-remaja lain?" Namun dalam hati ibu merasa kasihan dengannya.



Suatu hari ayah anak lelaki itu bertemu dengan seorang dokter yang bisa mencangkokkan telinga untuknya. "Saya percaya saya bisa memindahkan sepasang telinga untuknya. Tetapi harus ada seseorang yang bersedia mendonorkan telinganya," kata dokter. Kemudian, orangtua anak lelaki itu mulai mencari siapa yang mau mengorbankan telinga dan mendonorkannya pada mereka.Beberapa bulan sudah berlalu. Dan tibalah saatnya mereka memanggil anak lelakinya,



"Nak, seseorang yang tak ingin dikenal telah bersedia mendonorkan telinganya padamu. Kami harus segera mengirimmu ke rumah sakit untuk dilakukan operasi. Namun, semua ini sangatlah rahasia." kata sang ayah.



Operasi berjalan dengan sukses. Seorang lelaki baru pun lahirlah. Bakat musiknya yang hebat itu berubah menjadi kejeniusan. Ia pun menerima banyak penghargaan dari sekolahnya. Beberapa waktu kemudian ia pun menikah dan bekerja sebagai seorang diplomat. Ia menemui ayahnya, "Yah, aku harus mengetahui siapa yang telah bersedia

mengorbankan ini semua padaku. Ia telah berbuat sesuatu yang besar namun aku sama sekali belum membalas kebaikannya."



Ayahnya menjawab, "Ayah yakin kau takkan bisa membalas kebaikan hati orang yang telah memberikan telinga itu." Setelah terdiam sesaat ayahnya melanjutkan, "Sesuai dengan perjanjian, belum saatnya bagimu untuk mengetahui semua rahasia ini."



Tahun berganti tahun. Kedua orangtua lelaki itu tetap menyimpan

rahasia. Hingga suatu hari tibalah saat yang menyedihkan bagi keluarga itu. Dihari itu ayah dan anak lelaki itu berdiri di tepi peti jenazah ibunya yang baru saja meninggal. Dengan perlahan dan lembut, sang ayah membelai rambut jenazah ibu yang terbujur kaku itu,

lalu menyibaknya sehingga tampaklah...bahwa sang ibu tidak memiliki telinga.



"Ibumu pernah berkata bahwa ia senang sekali bisa memanjangkan rambutnya," bisik sang ayah. "Dan tak seorang pun menyadari bahwa ia telah kehilangan sedikit kecantikannya bukan?"



Kecantikan yang sejati tidak terletak pada penampilan tubuh namun di

dalam hati.



Harta karun yang hakiki tidak terletak pada apa yang bisa terlihat, namun pada apa yang tidak dapat terlihat.



***************************************************************



Tahukah Anda



Prosesi Kredit pertama kali dilakukan 3000 tahun lalu Assyria, Babylon dan Mesir





***************************************************************



Kata Bijak Hari Ini.





"Cinta yang sejati tidak terletak pada apa yang telah dikerjakan dan diketahui, namun pada apa yang telah dikerjakan namun tidak diketahui. "



***************************************************************



Share:

Buat "Dede" � page 8

Share:

Kenikmatan-Kenikmatan Berupa Ujian

Kenikmatan-Kenikmatan Berupa Ujian

Disadur dari Mailing List Daarut Tauhiid (Thursday, September 11, 2003 7:41 AM)









'Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu): di sisi

Allah-lah pahala yang besar. Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut

kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah; dan nafkahkanlah nafkah yang baik

untuk dirimu. Dan barang siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya maka

mereka itulah orang-orang yang beruntung'. (Q.S. At Taghaabun :15-16)



Pernahkah kita merasa diuji oleh Allah? Kita cenderung mengatakan kalau kita

ditimpa kesusahan maka kita sedang mendapat cobaan dan ujian dari Allah. Jarang

sekali kalau kita dapat rezeki dan kebahagiaan kita teringat bahwa itupun

merupakan ujian dan cobaan dari Allah. Ada diantara kita yang tak sanggup

menghadapi ujian itu dan boleh jadi ada pula diantara kita yang tegar

menghadapinya. Al-Qur'an mengajarkan kita untuk berdo'a:





'Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): 'Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir'. (Q.S Al Baqarah :286)



Do'a tersebut lahir dari sebuah kepercayaan bahwa setiap derap kehidupan kita

merupakan cobaan dari Allah. Kita tak mampu menghindar dari ujian dan cobaan

tersebut, yang bisa kita pinta adalah agar cobaan tersebut sanggup kita jalani.

Cobaan yang datang ke dalam hidup kita bisa berupa rasa takut, rasa lapar,

kurang harta dan lainnya.





'Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan,

kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira

kepada orang-orang yang sabar'. (Q.S. Al Baqarah :155)



Bukankah karena alasan takut lapar saudara kita bersedia mulai dari membunuh

hanya karena persoalan uang dengan berani memalsu kuitansi atau menerima komisi

tak sah. Bukankah karena rasa takut akan kehilangan jabatan membuat sebagian

saudara kita pergi ke 'orang pintar' agar bertahan pada posisinya atau supaya

malah meningkat ke 'kursi' yg lebih empuk. Bukankah karena takut kehabisan harta

kita jadi enggan mengeluarkan zakat dan sadaqah.



Al-Qur'an melukiskan secara luar biasa cobaan-cobaan tersebut. Amat menarik

bahwa Allah menyebut orang sabarlah yang akan mendapat berita gembira. Jadi

bukan orang yang menang atau orang yang gagah....tapi orang yang sabar!.





Kemudian Allah menjelaskan siapa yang dimaksud oleh Allah dengan orang sabar

pada ayat di atas: '(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka

mengucapkan 'Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un'. (Q.S. Al Baqarah :156)



Ternyata, begitu mudahnya Allah melukiskan orang sabar itu. Bukankah kita sering

mengucapkan kalimat 'Inna lillahi....' Orang sabar-kah kita? Nanti dulu!

Andaikata kita mau merenung makna kalimat Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un

maka kita akan tahu bahwa sulit sekali menjadi orang yang sabar.



Arti kalimat itu adalah : 'Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan

kepada-Nya-lah kami kembali.' Kalimat ini ternyata bukan sekedar kalimat biasa.

Kalimat ini mengandung pesan dan kesadaran tauhid yang tinggi. Setiap musibah,

cobaan dan ujian itu tidaklah berarti apa-apa karena kita semua adalah milik

Allah; kita berasal dari-Nya, dan baik suka-maupun duka, diuji atau tidak, kita

pasti akan kembali kepada-Nya. Ujian apapun itu datangnya dari Allah, dan hasil

ujian itu akan kembali kepada Allah. Inilah orang yang sabar menurut Al-Qur'an!



Ikhlaskah kita bila barang yang kita beli dengan susah payah hasil keringat

sendiri tiba-tiba hilang. Relakah kita bila perdagangan yang sudah didepan mata,

tiba-tiba tidak jadi diberikan kepada kita, dan diberikan kepada saingan kita.

Bisakah kita mengucap pelan-pelan dengan penuh kesadaran, bahwa semuanya dari

Allah dan akan kembali kepada Allah. Kita ini tercipta dari tanah dan akan

kembali menjadi tanah....



Bila kita mampu mengingat dan menghayati makna kalimat tersebut, ditengah ujian

dan cobaan yang menerpa kehidupan kita, maka Allah menjanjikan dalam Al-Qur'an:

'Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan

mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.'



Dalam sebuah hadits Qudsi Allah berkata:

'Siapa yang tak rela menerima ketentuan-Ku, silahkan keluar dari bumi-Ku!'.

(H.R. Hadits)



Waw'llahu a'lam bishowab

'inna lillahi wa inna ilaihi raji'un'"
Share:

Dimanakah Tsa'labah Sekarang

Seorang sahabat Nabi yang amat miskin datang pada Nabi sambil mengadukan tekanan ekonomi yang dialaminya. Tsa'labah, nama sahabat tersebut, memohon Nabi untuk berdo'a supaya Allah memberikan rezeki yang banyak kepadanya.



Semula Nabi menolak permintaan tersebut sambil menasehati Tsa'labah agar meniru kehidupan Nabi saja. Namun Tsa'labah terus mendesak. Kali ini dia mengemukakan argumen yang sampai kini masih sering kita dengar, 'Ya Rasul, bukankah kalau Allah memberikan kekayaan kepadaku, maka aku dapat memberikan kepada setiap orang haknya'.



Nabi kemudian mendo'akan Tsa'labah. Tsa'labah mulai membeli ternak. Ternaknya berkembang pesat sehingga ia harus membangun petenakakan agak jauh dari Madinah. Seperti bisa diduga, setiap hari ia sibuk mengurus ternaknya. Ia tidak dapat lagi menghadiri shalat jama'ah bersama Rasul di siang hari. Hari-hari selanjutnya, ternaknya semakin banyak; sehingga semakin sibuk pula Tsa'labah engurusnya. Kini, ia tidak dapat lagi berjama'ah bersama Rasul. Bahkan menghadiri shalat jum'at dan shalat jenazah pun tak bisa dilakukan lagi.



Ketika turun perintah zakat, Nabi menugaskan dua orang sahabat untuk menarik zakat dari Tsa'labah. Sayang, Tsa'labah menolak mentah-mentah utusan Nabi itu. Ketika utusan Nabi datang hendak melaporkan kasus Tsa'labah ini, Nabi menyambut utusan itu dengan ucapan beliau, 'Celakalah Tsa'labah!'



Nabi murka, dan Allah pun murka! Saat itu turunlah Qs at-Taubah: 75-78



'Dan diantara mereka ada yang telah berikrar kepada Allah, 'Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh.'



Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran).



Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan (juga) karena mereka selalu berdusta.



Tidaklah mereka tahu bahwasannya Allah mengetahui rahasia dan bisikan mereka, dan bahwasannya Allah amat mengetahui yang ghaib?'



Tsa'labah mendengar ada ayat turun mengecam dirinya, ia mulai ketakutan. Segera ia temui Nabi sambil menyerahkan zakatnya. Akan tetapi Nabi menolaknya, 'Allah melarang aku menerimanya.' Tsa'labah menangis tersedu-sedu. Setelah Nabi wafat, Tsa'labah menyerahkan

zakatnya kepada Abu Bakar, kemudian Umar, tetapi kedua Khalifah itu menolaknya. Tsa'labah meninggal pada masa Utsman.



Dimanakah Ts'alabah sekarang?



Jangan-jangan kitalah Tsa'labah-Tsa'labah baru yang dengan linangan air mata memohon agar rezeki Allah turun kepada kita, dan ketika rezeki itu turun, dengan sombongnya kita lupakan ayat-ayat Allah.



Bukankah kita dengan alasan sibuk berbisnis tak lagi sempat sholat lima waktu. Bukankah dengan alasan ada 'meeting penting' kita lupakan perintah untuk sholat Jum'at. Bukankah ketika ada yang meminta sedekah dan zakat, kita ceramahi mereka dengan cerita bahwa harta

yang kita miliki ini hasil kerja keras, siang-malam membanting tulang; bukan turun begitu saja dari langit, lalu mengapa orang-orang mau enaknya saja minta sedekah tanpa harus kerja keras.



Kitalah Tsa'labah....Tsa'labah ternyata masih hidup dan 'mazhab'-nya masih kita ikuti...



Konon, ada riwayat yang memuat saran Nabi Muhammad SAW (dan belakangan digubah menjadi puisi oleh Taufiq Ismail),



'Bersedekahlah, dan jangan tunggu satu hari nanti di saat engkau ingin bersedekah tetapi orang miskin menolaknya dan mengatakan 'kami tak butuh uangmu, yang kami butuhkan adalah darahmu'!'



Dahulu Tsa'labah menangis di depan Nabi yang tak mau menerima zakatnya. Sekarang ditengah kesenjangan sosial di negeri kita, jangan-jangan kita bukan hanya akan menangis namun berlumuran darah ketika orang miskin menolak sedekah dan zakat kita!"
Share:

KELEBIHAN HARI ARAFAH

Hari Arafah adalah hari yang kesembilan dari bulan Zulhijjah yang mana bagi jemaah haji mereka diwajibkan berada di padang Arafah untuk wuquf di sana. Bagi mereka yang tidak mengerjakan ibadat haji , disunatkan berpuasa. Pada hari ini juga disunatkan untuk mengumandangkan takbir. Di sini akan disebutkan beberapa hadis yang menyatakan kepada kita mengenai kelebihan hari Arafah sebagai suntikan semangat dalam menambahkan amalan sebagai bekal di hari akhirat nanti.Ingatlah dunia ini hanya sementara dan mestilah digunakan untuk mencari sebanyak mungkin bekal sebelum tibanya hari kematian sebagai tiket utama menuju negeri akhirat yang kekal abadi.



Daripada Sayyidatina 'Aisyah bahawa Rasulullah S.A.W telah bersabda yang artinya : Tiada daripada hari yang lebih ramai daripada membebaskan Allah padanya hamba daripada neraka daripada hari Arafah. Dan sesungguhNya akan mengasihani, kemudian Dia bangga depan malaikat maka Dia bertanya : Apakah yang dikehendaki oleh mereka itu?

- Hadis isnadnya sohih dikeluarkan oleh imam Muslim, Nasai'e, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Darqatni, Hakim dan al-Baihaqi -



Daripada Jabir telah berkata : telah bersabda Rasulullah S.A.W yang artinya : Apabila tiba hari Arafah maka sesungguhnya Allah telah memuji dengan mereka para malaikat maka kataNya : lihatlah kepada hamba-hambaKu yang telah datang padaKu dengan berdebu dalam keadaan berduyun-duyun daripada setiap pelusuk, Aku bersaksi depan kamu(malaikat) bahawa Aku telah mengampuni mereka. Maka kata malaikat : Sesungguhnya ada di kalangan mereka pulan telah baligh dan pulan.Sabda baginda lagi : Allah berfirman: sesungguhnya Aku telah mengampuni mereka. Sabda Rasulullah S.A.W : maka tiada daripada hari lebih ramai orang yang bebas daripada neraka daripada hari Arafah.

- Hadis isnadnya sohih dikeluarkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Baihaqi-



Hadis-hadis ini menunjukkan kepada kita mengenai kelebihan hari Arafah samada kepada mereka yang mrenunaikan fardhu haji atau pun tidak. Allah mengampuni dosa hambaNya yang bertaubat dengan sebenar-benar taubat serta mengabulkan segala doa dan permintaan daripada hamba-hambaNya. Allah begitu bangga dengan hamba-hambaNya yang beramal soleh dan sentiasa bertaubat. Oleh itu, muhasabahkanlah diri kita samada kita termasuk dalam golongan yang sentiasa beramal soleh dan bertaubat atau pun hanya melakukan amalan sambil lewa dan penuh kemalasan. Ingatlah kepada hari mati dan hari pembalasan yang mana setiap amalan samada baik atau pun buruk walau sekecil zarah pun akan ditayangkan oleh Allah di depan khalayak ramai. Jika amalan baik tidaklah perlu dipersoalkan tetapi jika amalan buruk dan maksiat ditayangkan bagaimana perasaan kita ketika itu?. Kita tidak boleh menafikan lagi segala perbuatan maksiat yang dilakukan malah setiap angggota kita akan menjadi saksi kepada segala perbuatan yang dilakukan di dunia ini. Insaflah wahai sahabat-sahabatku!





maraji

1. Kitab Fadahailul Auqat oleh Abi Bakar bin Al-Husin Al-Baihaqi di kaji oleh Adnan Abdul Rahman Majid Al-Qaisi cetakan Maktabah Al-Manarah Makah Mukarramah."
Share:

Fadilah Zulhijah

Zulhijjah datang lagi buat sekian kalinya menemui kita bersama-sama kelebihannya sebagaimana yang pernah disebut oleh Pemimpin Daulah Islam yang pertama di Madinah yaitu Rasulullah S.A.W dalam beberapa hadis. Zulhijjah merupakan bulan yang menghimpunkan beberapa ibadat yang tidak ada pada bulan lain iaitu ibadat haji, ibadat korban disamping solat, sedekah serta amalan berzikir sebagai mendekatkan diri kepada Allah 'azzawajalla. Zulhijjah juga mengingatkan kita kepada beberapa peristiwa yang besar terutama bagi para jemaah haji iaitu mengenai pengorbanan nabi Ibrahim dan anaknya nabi Ismail serta Siti Hajar dalam masalah korban, sai'e dari Sofa ke Marwah, tawaf dan lain-lain lagi. Kita juga diingatkan dengan peristiwa haji wida' (selamat tinggal) dan khutbah yang keluar daripada mulut yang mulia iaitu daripada Rasulullah S.A.W sendiri yang mana dalam khutbah ini terkandung dalamnya nasihat, wasiat dan amanah yang penting daripada baginda kepada para muslimin samada yang ada pada masa itu atau pun generasi seterusnya sehinggalah hari qiamat.

Di bawah ini dinukilkan beberapa hadis sebagai renungan dan juga perangsang kepada kita dalam menambahkan lagi amalan dibulan yang penuh kelebihan ini dan bukannya melepaskan segala peluang yang ada dengan amalan yang sia-sia.



Daripada Ibnu Abbas telah berkata :Sabda Rasulullah S.A.W yang artinya :Tiada daripada hari-hari untuk beramal soleh padanya yang mana lebih disukai oleh Allah daripada hari-hari ini iaitu hari sepuluh (sepuluh hari pertama Zulhijjah). Para sahabat bertanya : Wahai Rassulullah! dan tidak (amal) jihad pada jalan Allah?. Jawab baginda : Dan tidak jihad pada jalan Allah. Sabda baginda lagi : melainkan seorang lelaki yang keluar dengan dirinya sendiri dan hartanya maka dia tidak pulang daripadanya dengan sesuatu.

- Hadis isnadnya sohih dikeluarkan daripada imam Bukhari, Tarmizi, Abu Daud, Ibnu Majah, Ahmad, Ibnu Habban dan al-Baihaqi dengan sanad atau jalan berbeza -



Daripada Ibnu Abbas telah berkata : Sabda Rasulullah S.A.W yang artinya : Tiada daripada hari-hari yang begitu lebih di sisi Allah dan tiada amalan padanya lebih disukai kepada Allah daripada hari-hari sepuluh ini. Maka perbanyakkanlah padanya daripada tahlil, takbir maka sesungguhnya ia merupakan hari-hari tahlil, bertakbir dan berzikir kepada Allah. Dan puasa sehari daripadanya menyamai puasa setahun dan beramal padanya digandakan 700 kali ganda.

- Hadis isnadnya hasan dikeluarkan oleh imam al-Baihaqi dan disebut oleh imam Sayuti -



Hadis-hadis ini menjelaskan kepada kita mengenai kelebihan beramal pada hari sepuluh daripada Zulhijjah seperti berpuasa sunat, zikir, tahlil dan bertakbir. Kelebihannya ini tidak dapat dirasai jika kita hanya membaca dan mengetahuinya tanpa ada di sana amalan sebagai menyahut kelebihan yang dianugerahkan oleh Allah ini."
Share:

A Glass of Milk

Suatu hari, seorang anak lelaki miskin yang hidup dari menjual asongan

dari pintu ke pintu, menemukan bahwa dikantongnya hanya tersisa beberapa

sen uangnya, dan dia sangat lapar.



Anak lelaki tersebut memutuskan untuk meminta makanan dari rumah

berikutnya. Akan tetapi anak itu kehilangan keberanian saat seorang

wanita muda membuka pintu rumah. Anak itu tidak jadi meminta makanan, ia

hanya berani meminta segelas air.



Wanita muda tersebut melihat, dan berpikir bahwa anak lelaki tersebut

pastilah lapar, oleh karena itu ia membawakan segelas besar susu.



Anak lelaki itu meminumnya dengan lambat, dan kemudian bertanya, "berapa

saya harus membayar untuk segelas besar susu ini ?" Wanita itu menjawab:

"Kamu tidak perlu membayar apapun". "Ibu kami mengajarkan untuk tidak

menerima bayaran untuk kebaikan" kata wanita itu menambahkan.



Anak lelaki itu kemudian menghabiskan susunya dan berkata :" Dari dalam

hatiku aku berterima kasih pada anda."



Bertahun-tahun kemudian, wanita muda tersebut mengalami sakit yang

sangat kritis. Para dokter dikota itu sudah tidak sanggup menganganinya.

Mereka akhirnya mengirimnya ke kota besar, dimana terdapat dokter

spesialis yang mampu menangani penyakit langka tersebut.



Dr. Howard dipanggil untuk melakukan pemeriksaan. Pada saat ia mendengar

nama kota asal si wanita tersebut, terbersit seberkas pancaran aneh pada

mata Dr. Howard. Segera ia bangkit dan bergegas turun melalui hall

rumahsakit, menuju kamar si wanita tersebut. Dengan berpakaian jubah

kedokteran ia menemui si wanita itu.



Ia langsung mengenali wanita itu pada sekali pandang. Ia kemudian

kembali ke ruang konsultasi dan memutuskan untuk melakukan upaya terbaik

untuk menyelamatkan nyawa wanita itu. Mulai hari itu, Ia selalu

memberikan perhatian khusus pada kasus wanita itu.



Setelah melalui perjuangan yang panjang, akhirnya diperoleh

kemenangan... Wanita itu sembuh !!. Dr. Howard meminta bagian keuangan

rumah sakit untuk mengirimkan seluruh tagihan biaya pengobatan kepadanya

untuk persetujuan. Dr. Howard melihatnya, dan menuliskan sesuatu pada

pojok atas lembar tagihan, dan kemudian mengirimkannya ke kamar pasien.



Wanita itu takut untuk membuka tagihan tersebut, ia sangat yakin bahwa

ia tak akan mampu membayar tagihan tersebut walaupun harus diangsur

seumur hidupnya. Akhirnya Ia memberanikan diri untuk membaca tagihan

tersebut, dan ada sesuatu yang menarik perhatiannya pada pojok atas

lembar tagihan tersebut. Ia membaca tulisan yang berbunyi.."Telah

dibayar lunas dengan segelas besar susu !!" tertanda, Dr. Howard Kelly.



Air mata kebahagiaan membanjiri matanya. Ia berdoa:

"Tuhan, terima kasih, bahwa cintamu telah memenuhi seluruh bumi melalui

hati dan tangan manusia."



Sumber: unknown

Dikirim oleh: darknessking



Untuk artikel seperti ini dapat diperoleh di http://www.kafe-kantor.com

Share:

Astagfirullah

Astagfirullah



Diriwayatkan bahwa pada suatu hari Rasulullah S.A.W sedang duduk bersama

para sahabat, kemudian datang pemuda Arab masuk ke alam masjid dengan

menangis.

Apabila Rasulullah S..A.W melihat pemuda itu menangis maka baginda pun

berkata, "Wahai orang muda kenapa kamu menangis?" Maka berkata orang ;

muda itu,"Ya



Rasulullah S.A.W, ayah saya telah meninggal dunia dan tidak ada kain

kafan dan tidak ada orang yang hendak memandikannya."

Lalu Rasulullah S.A.W memerintahkan Abu Bakar r.a. dan Umar r.a. ikut

orang muda itu untuk melihat masalahnya. Setelah mengikuti orang itu,

maka

Abu Bakar r.a dan Umar r.a. mendapati ayah orang muda itu telah bertukar

rupa menjadi babi hitam, maka mereka pun kembali dan memberitahu kepada

Rasulullah S.A.W, "Ya Rasulullah S.A.W, kami lihat mayat ayah orang ini

bertukar menjadi babi hutan yang hitam."kemudian Rasulullah S.A.W dan

para sahabat pun pergi ke rumah orang muda dan baginda pun berdoa

kepada Allah S.W.T, kemudian mayat itu pun bertukar kepada bentuk

manusia semula.



Lalu Rasulullah S.A.W dan para sahabat menyembahyangkan mayat tersebut.

Apabila mayat itu hendak dikebumikan, maka sekali lagi mayat itu berubah

menjadi seperti babi hutan yang hitam, maka Rasulullah S.A.W pun

bertanya kepada pemuda itu, "Wahai orang muda, apakah yang telah

dilakukan oleh ayahmu sewaktu dia di dunia dulu?" Berkata orang muda

itu, "Sebenarnya ayahku ini tidak mau mengerjakan shalat."

Kemudian Rasulullah S.A.W bersabda, "Wahai para sahabatku,lihatlah

keadaan orang yang meninggalkan sembahyang. Di hari kiamat nanti akan

bangkitkan oleh Allah S.W.T seperti babi hutan yang hitam."



Dizaman Abu Bakar r.a ada seorang lelaki yang meninggal dunia dan

sewaktu mereka menyembahyanginya tiba-tiba kain kafan itu bergerak.

Apabila mereka membuka kain kafan itu mereka melihat ada seekor ular

sedang membelit leher mayat tersebut serta memakan daging dan menghisap

darah mayat. Lalu mereka coba membunuh ular itu. Apabila mereka coba

untuk membunuh ular itu, maka berkata ular tersebut, "Laa ilaaha

illallahu Muhammad Rasulullah, mengapakah kamu semua hendak membunuh

aku? Aku tidak berdosa dan aku tidak bersalah. Allah S.W.T yang

memerintahkan kepadaku supaya menyiksanya sehingga sampai hari kiamat."



Lalu para sahabat bertanya,"Apakah kesalahan yang telah dilakukan oleh

mayat ini?"



Berkata ular, "Dia telah melakukan tiga kesalahan, diantaranya :



1. Apabila dia mendengar azan dia tidak mau datang untuk sembahyang

berjamaah.

2. Dia tidak mau keluarkan zakat hartanya.

3. Dia tidak mau mendengar nasihat para ulama.



Maka inilah balasannya.

Jika kamu tidak keberatan, forwardlah ceirta ini kepada teman-temanmu

bagaimanapun caranya.



Karena sesungguhnya ilmu yang bermanfaat itu akan abadi jika diamalkan

dan sesungguhnya yang mengamalkannya itu tidak akan pernah kekurangan

ilmu..



Jadi tunggu apalagi?? di forward ya.. Allah Maha Melihat

Eratkan Ukhuwah, Gerakkan Islah !!







Share:

Motovasi

************************ Motivasi Net ***********************



motivasi, inspirasi, cerita bijak, renungan, kata-kata

bijak, cerita unik yang menarik, cerita rekan kantor, kisah

teladan, kisah sukses, ..............



***************************************************************



Kebahagiaan sebagai pilihan



Pada suatu zaman di Tiongkok, hiduplah seorang jenderal besar yang selalu menang dalam setiap pertempuran. Karena itulah, ia dijuluki "Sang Jenderal Penakluk" oleh rakyat. Suatu ketika, dalam sebuah pertempuran, ia dan pasukannya terdesak oleh pasukan lawan yang berkali lipat lebih banyak.



Mereka melarikan diri, namun terangsak sampai ke pinggir jurang. Pada saat itu para prajurit Sang Jenderal menjadi putus asa dan ingin menyerah kepada musuh saja. Sang Jenderal segera mengambil inisiatif, "Wahai seluruh pasukan, menang-kalah

sudah ditakdirkan oleh dewa-dewa. Kita akan menanyakan kepada para dewa, apakah hari ini kita harus kalah atau akan menang. Saya akan melakukan tos dengan keping keberuntungan ini! Jika sisi gambar yang muncul, kita akan menang. Jika sisi angka yang muncul, kita akan kalah! Biarlah dewa-dewa yang menentukan!" seru Sang Jenderal sambil melemparkan kepingnya untuktos.



Ternyata sisi gambar yang muncul! Keadaan itu disambut histeris oleh pasukan Sang Jenderal, "Hahaha. dewa-dewa di pihak kita! Kita sudah pasti menang!!!" Dengan semangat membara, bagaikan kesetanan mereka berbalik menggempur balik pasukan lawan. Akhirnya, mereka benar-benar berhasil menunggang-langgangkan lawan yang berlipat-lipat banyaknya.



Pada senja pasca-kemenangan, seorang prajurit berkata kepada Sang Jenderal, "Kemenangan kita telah ditentukan dari langit, dewa-dewa begitu baik terhadap kita."



Sang Jenderal menukas, "Apa iya sih?" sembari melemparkan keping keberuntungannya kepada prajurit itu. Si prajurit memeriksa kedua sisi keping itu, dan dia hanya bisa melongo ketika mendapati bahwa ternyata kedua sisinya adalah gambar.



Memang dalam hidup ini ada banyak hal eksternal yang tidak bisa kita ubah; banyak hal yang terjadi tidak sesuai dengan kehendak kita. Namun demikian, pada dasarnya dan pada akhirnya, kita tetap bisa mengubah pikiran atau sisi internal kita sendiri: untuk menjadi bahagia atau menjadi tidak berbahagia. Jika bahagia atau tidak bahagia diidentikkan dengan nasib baik atau nasib buruk, jadi sebenarnya nasib kita tidaklah ditentukan oleh siapa-siapa, melainkan oleh diri kita sendiri. Ujung-ujungnya, kebahagiaan adalah sebuah pilihan proaktif.



"The most proactive thing we can do is to 'be happy'," begitu kata Stephen R. Covey dalam buku '7 Habits'.(SM)



***************************************************************



Tahukah Anda.



Seremonial Memukulkan botol/kendi ke badan kapal/kendaraan hingga pecah untuk tanda peluncuran pertama, ternyata sudah ada sejak jaman Babylonia (sekitar 3000 tahun sebelum masehi).



Kemudian seremonial tersebut populer kembali sejak abad ke-17 ketika angkatan laut Inggris memukulkan botol pada setiap peluncuran kapal baru.



***************************************************************



Kata Bijak Hari Ini.



"Hidup seekor lebah lebih bernilai daripada binatang lain bukan lantaran ia pekerja giat, tapi karena ia lebih suka bekerja (menghasilkan madu) untuk kenikmatan pihak lain."



***************************************************************



Motivasi_Net's Cool Site Of The Day.

diambil dari Search Engine http://www.indocenter.com/



Situs Penguatan Hak-hak Perempuan

http://www.mukhotibmdonline.tk



***************************************************************



Anda dapat memforward email ini ke teman-teman Anda, dan

mengajak mereka untuk turut serta bergabung dengan Anda.



Untuk bergabung : Motivasi_Net-subscribe@yahoogroups.com

Untuk berhenti : Motivasi_Net-unsubscribe@yahoogroups.com



***************************************************************











------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->

Give the gift of life to a sick child.

Support St. Jude Children's Research Hospital's 'Thanks & Giving.'

http://us.click.yahoo.com/lGEjbB/6WnJAA/E2hLAA/qkHolB/TM

--------------------------------------------------------------------~->





Yahoo! Groups Links



<*> To visit your group on the web, go to:

http://groups.yahoo.com/group/Motivasi_Net/



<*> To unsubscribe from this group, send an email to:

Motivasi_Net-unsubscribe@yahoogroups.com



<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:

http://docs.yahoo.com/info/terms/















--

No virus found in this incoming message.

Checked by AVG Anti-Virus.

Version: 7.0.308 / Virus Database: 266.9.9 - Release Date: 13/04/2005
Share:

Tawassul, Apakah Itu?

Tawassul adalah berdoa dengan melalui perantara, seperti seseorang mengatakan, "Dengan kedudukan Syaikh Fulan saya memohon kepada-Mu" atau "melalui perantara Fulan (orang takwa atau nabi) saya memohon kepada-Mu." Tawassul seperti ini tidak dibolehkan karena dapat menjerumuskan seseorang kepada perbuatan syirik, sebab dalam ajaran Islam setiap orang dapat langsung berhubungan dengan Allah tanpa melalui perantara siapa pun.

Disebutkan dalam Al-Qur'an penyebab kekufuran orang musyrik adalah karena mereka menjadikan berhala-berhala sebagai perantara yang dapat menyampaikan doa mereka kepada Allah, sebagaimana disebutkan dalam ayat berikut ini:

"Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata), 'Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya'." (QS. Az-Zumar: 3)

Namun ada tiga bentuk tawwasul yang dibolehkan karena di dalamnya tidak mengandung unsur syirik, yaitu tawasul dengan amal shaleh seperti yang dilakukan oleh tiga orang yang terperangkap dalam doa, tawasul dengan menyebut nama-nama dan sifat-sifat Allah yang tinggi, serta seseorang mengatakan, "Ya Allah, dengan nama-MU Ar-Rahmah, Ar-Rahim, Ash-Shamad, Al-Ghaniy, Al-Karim aku memohon kepada-Mu agar Engkau…" serta bertawasul kepada orang shalih yang masih hidup agar dia mendoakan untuk kebaikan kita, sebagaimana Umar bin Khattab pernah meminta kepada Abbas bin Abdul Muthallib untuk berdoa kepada Allah, agar Allah menurunkan hujan bagi kaum muslimin. Wallahu A'lam bishawwab.

Ust. Iman Sulaiman Lc.
Share:

Membahagiakan Diri Sendiri dan Orang Lain

Ada pelajaran penting yang dapat saya tangkap dari interaksi sosial yang terjalin selama ini, bahwa salah satu bentuk usaha untuk membahagiakan diri sendiri dan orang lain adalah dengan memberikan penghormatan yang pantas dengan yang dihormatinya. Salah satu contohnya, memanggilnya dengan sapaan yang disenanginya, yakni dengan namanya yang sebenarnya atau gelarnya.

Sungguh dingin dan berat perasaan orang yang menyebut nama saudaranya dengan konteks-konteks yang tidak jelas misalnya, "Anda, si Ini" atau "si Itu". Apakah dengan memanggil seperti itu Anda ingin orang lain tidak mengenal Anda, memanggil Anda dengan nama yang salah, atau menyapa dengan gelar yang tidak benar? Saya tidak yakin.

Sikap mengabaikan dan menjatuhkan orang lain menunjukkan ketidakpekaan perasaan dan keras kepala.

Seorang isteri yang telah berusaha mengatur rumah, merapikan posisi perabot, dan menambahkan wangi-wangian untuk menyegarkan ruangan, tentu tidak akan habis pikir ketika suaminya masuk dan tidak tidak acuh terhadap usaha isterinya ini. Tak ada ekspresi apa-apa, dingin. Sikap suami seperti ini akan memupuskan semangat dan perhatian.

Berilah perhatian terhadap orang lain, ungkapkan rasa terimakasih Anda terhadap hasil karya orang lain, dan pujilah pemandangan yang bagus, bau yang menyegarkan, perbuatan yang baik, sifat yang terpuji, qashidah yang menyentuh, dan buku yang bermanfaat, agar nama Anda dicatat dalam daftarorang-orang yang bisa membalas budi dan jujur sebagai orang yang berkepribadian.


Dr. 'Aidh al-Qorny

Dari buku Laa Tahzan (Jangan Bersedih!) terbitan Qisthy Press
Share:

Membalut Duka, Mengemban Amanah

'Beruntung' para pengemis di negeri kita tidak dilarang oleh pemerintah untuk meminta-minta. Coba seandainya mereka dilarang, akan ke mana mereka meminta sebagian dari 'hak-hak' mereka?

Sejak terpuruknya bangsa kita enam tahun lalu, jumlah pengemis memang bukannya semakin berkurang. Di desa kami, per hari, tanpa melebih-lebihkan, tidak kurang dari lima pengemis akan mendatangi setiap rumah, khususnya yang tidak berpagar, dan... tentu saja kelihatan 'punya'. Hari Jum'at, lebih ramai lagi. 'Ladang' beramal? Itu bagi kita yang menyadari.

Sayangnya, tidak sedikit para pengemis ini yang menjadikan pekerjaannya sebagai sebuah 'profesi'. Begitu kata sementara orang. Bagi mereka yang punya duit, akan dibangun rumah besar dan bertembok tinggi. Kalau mungkin, akan tertulis di depan pintu 'Dilarang Parkir'. Maksudnya kira-kira begini: para pengemis hendaknya jangan dekat-dekat!

Di Dubai-United Arab Emirates, dalam dua tahun terakhir ini 'kebijakan' pemerintah terhadap para pengemis memang ketat sekali. Kasarnya, tidak ada kata 'maaf' untuk mereka. Jika tertangkap oleh petugas, karena para pengemis ini biasanya para pendatang, konsekuensinya tidak tanggung-tanggung: dibawa ke kantor polisi, kemudian dideportasi. Maklum, sebagai sebuah negara kaya, apalagi Pemerintah Dubai tengah berupaya menarik wisatawan sebanyak mungkin sebagai the hub of the Middle East, mereka berusaha menciptakan suasana kota yang 'bersih'. Tidak terkecuali dari para peminta-minta ini.

Tapi lepas sholat Maghrib tadi aku menyaksikan sebuah pemandangan lain. Dua orang, sepasang suami istri tengah duduk di atas sebuah becak, katakanlah begitu karena di sana tidak ada angkutan jenis ini. Terkesan rakitan sendiri. Ketikaaku keluar melangkahkan kaki dari masjid, terlihat seorang Arab tengah merogoh kantongnya, kemudian sedikit membungkukkan badannya. Didekatinya mereka dan ditaruhnya kejumlah dirham ke atas telapak tangan yang tengah menengadah.

Tangan itu milik seorang ibu berjilbab, mengenakan abaya berbunga-bunga, warna-warni biru, kuning dan putih, tapi lusuh. Ibu yang saya perhatikan menutup semua anggota badannya ini hanya kelihatan dua belah matanya, sebagaimana umumnya pola berpakaian sebagian muslimah di UAE. Dari penampilan sang suami, nampaknya mereka berkebangsaan Pakistan. Sesudah orang Arab pertama yang memberikan sejumlah duit pada perempuan tersebut, saya lihat jamaah-jamaah yang baru saja keluar dari masjid melakukan hal yang sama.

Tahu kenapa mereka begitu tergerak mendermakan sebagian rejekinya kepada sepasang suami istri ini? Terlepas dari kekuatiran saya akan ditangkapnya mereka oleh petugas pemerintah, si perempuan setengah baya yang sedang menengadahkan kedua tangannya itu ternyata hanya memiliki separuh anggota badan!

Saya melihatnya, apa yang mendorong mereka melakukan pekerjaan ini lebih didasari oleh barangkali niat besar sang suami dalam menjaga amanah yang diberikan oleh Allah SWT kepadanya dalam memelihara istrinya yang tanpa kedua belah kaki. Subhanallah... betapa beruntungnya kita yang memiliki anggota tubuh yang lengkap. Sayangnya, kebanyakan dari kita kurang pandai bersyukur atas nikmat besar ini. Astaghfirullah...

Dalam perjalanan ke rumah, selepas Maghrib tersebut, pikiranku jadi melayang jauh ke nasib yang menimpah seorang rekan saya. Tentu saja dia bukan seorang pengemis. Dia bahkan secara materi boleh dikata punya. Yang hampir sama adalah, apa yang dialami oleh mendiang salah seorang putera rekan saya. Dia lumpuh total! Anggota badannya lengkap, akan tetapi sang anak tidak kuasa bahkan untuk mengangkat kepalanya sendiri. Dan itu sudah berlangsung selama tujuh belas tahun! Subhanallah...

As you know, I left Dubai purely because of my disabled child's health weakening. Everything Allah knows, and days are leaving behind me only to make prayers to Allah for my son's day after-Paradise.

Demikian bunyi bait kedua surat dari Abdul Azeem, ayah anak cacat tersebut, rekan saya, yang saya terima tanggal 13 November 2003 lalu. Waktu itu bertepatan dengan bulan suci Ramadhan. Dia tinggalkan Dubai, balik ke kampung halamannya di sebuah negara bagian Kerala, India. Sedangkan surat pertama yang saya terima darinya kurang lebih empat bulan sesudah kepulangannya ke India. Saya tidak sempat menemuinya karena ketika dia berangkat ke India, saya sedang cuti tahunan.

Abdul Azeem, 52 tahun, ayah 4 orang anak, yang saya kenal adalah orang yang taat beribadah, straight forward, jujur, dan suka menepati janji. Itulah beberapa karakter mulia yang saya ketahui tentang dia. Kepribadian dan perilaku baik ini yang membuat saya tidak bisa melupakannya sebagai seorang teman. Apalagi pada jaman sekarang di mana sulit mencari teman. Seperti kata Rhoma Irama dalam lagu lamanya, teman hanya mendekat bila uang melekat.

Namun lain halnya dengan orang setengah tua yang satu ini. Pada awal kami bertemu, katanya, saya mengingatkan dia akan seorang kenalannya asal Singapore. Maklum, Singapore dan Indonesia kan satu rumpun, jadi penampilan fisik antara temannya dan saya banyak kesamaan, seperti halnya orang India dan Pakistan. Hal itu dituangkannya dalam suratnya:

You perhaps are planning to leave the UAE. Earlier, I had a Singaporean friend, named Abdul Hameed, who worked for Armed Forces-Dubai as Aeronautical Engineer. Very nice friend, very co-operative, pious. But later, he left to the States for higher studies. Alhamdulillah he is now in Australia working for some airlines company. For a prolonged period we were in touch. But finally, I don't know. How I missed him and his whereabout, I have no idea...!

Seperti yang saya kemukakan diatas, kepulangannya ke India memang semata-mata karena kondisi kesehatan anak lelaki yang ketiga yang semakin memburuk. Sementara di rumah hanya istrinya yang merawat. Kecuali yang satu ini, ketiga anak-anaknya, alhamdulilah sehat, mereka sibuk dengan kegiatan sekolahnya. Saya pernah menyarankan bagaimana jika menyewa seorang baby sitter saja guna membantu istrinya merawat puteranya yang memang membutuhkan bantuan penuh. Dengan begitu beban berat sang istri bisa lebih ringan. Nampaknya sang istri keberatan dengan usulan ini.

Keberadaan Abdul Azeem sendiri yang jauh di luar negeri bukannya tanpa alasan. Sebagai seorang kepala keluarga, dialah yang bertanggungjawab memikul beban finansial keluarganya, termasuk beaya sekolah ketiga anaknya yang mulai membengkak. Oleh sebab itu, dia dihadapkan kepada dilema yang berat sekali. Tinggal di luar negeri memberikan keuntungan kepada keluarganya dari segi keuangan. Namun nun jauh di sana, anak lelakinya yang ketiga, membutuhkan perawatan penuh.

Abdul Muhymin namanya, terlahir dengan cacat bawaan yang membuat dia lumpuh. Dalam usia yang ke dua belas, ketika pertama kali saya kenal Abdul Azeem, dari fotonya, penampilan Abdul Muhymin tidak ubahnya anak umur 2 tahun yang tidak mampu bergerak sama sekali, kecuali menangis apabila kencing atau buang air besar.

Saya mengetahuinya ketika beberapa saat sesudah kami kenal, Abdul Azeem meminta saya untuk menemaninya mencari beberapa perangkat peralatan anak-anak cacat. Saya sendiri dibuat agak heran sebenarnya waktu itu. Akhirnya saya ketahui manakala dia beberkan semuanya.

Sebagai seorang teman, saya cukup terharu dibuatnya. Abdul Muhymin memang pernah tinggal di Dubai bersamanya. Hanya saja, biaya perawatan fisioterapi yang semakin mahal membuat Abdul Azeem memutuskan dikirimkan anaknya ke India dimana beaya pengobatan lebih murah. Sementara dia sendiri pada akhirnya kontrak, gabung dengan bujangan-bujangan lainnya. Itung-itung sambil menghemat pengeluaran.

Setiap bulan Abdul Azeem selalu mengirim paket-paket kebutuhan anak-anaknya. Mulai dari sabun mandi, susu, pakaian, hingga pampers. Layaknya kaum lelaki India lainnya, merekalah yang mengurusi sebagian besar kebutuhan rumah tangga. Sementara sang istri tinggal di rumah, sang suami yang berangkat ke pasar, belanja sayur-mayur, lauk-pauk, hingga kebutuhan konstruksi bangunan. Ini mereka lakukan dengan alasan tidak aman jika kaum wanita yang harus keluar rumah. Makanya tidak heran, jika setiap akhir bulan, istrinya mengirim catatan kebutuhan yang diperlukan.

Abdul Azeem, yang aktif dalam kegiatan dakwah di Islamic Cultural Centre, tidak kalah sibuknya dengan sang istri. Meski jauh dari keluarga, perhatian yang diberikan terhadap anak-anaknya, tidak bedanya dengan perhatian dan kegiatan istrinya. Yang membedakan, mereka tidak tinggal bersama.

Pagi itu, entah apa yang mendorong, saya coba ubungi dia lewat telepon. "He is out!" suara disana, kedengarannya dari salah satu anak lelakinya, menjawab. "I will call again!" saya coba meyakinkan.

Tiga hari kemudian, saat saya sedang bekerja, telepon berdering. Innalillahi wa inna ilaii raji'un. Berita yang saya terima: putera Abdul Azeem berpulang ke rahmatullah! Abdul Muhymin, anak berusia 17 tahun yang tidak pernah mengenal arti keindahan permainan anak-anak, bahkan tidak pernah tahu pula perbedaan hitam dan putih, biru atau hijau, menyisahkan kenangan yang tidak akan pernah bisa dilupakan bagi kehidupan Abdul Azeem. Setidaknya demikianlah yang bisa saya tangkap lewat surat yang saya terima sekitar dua minggu sepeninggal puteranya.

Sorry. Due to my son's demise, I could not reply your letter as decided. However, you understand my situation. To console my wife is little bit difficult, as you know she is the only lone person to support him 24 hours casualty. Please pray for my late son, Abdul Muhymin, rest in peace!

Amanah yang diberikan Allah SWT kepada kita memang bermacam-macam bentuknya. Adakalanya sebuah kenikmatan berupa harta kekayaan, martabat, atau anak-anak. Tidak jarang pula, malah sebaliknya, berupa cobaan hidup. Kehidupan itu sendiri adalah sebuah amanah, apakah didalamnya kita kaya, miskin, bahagia atau menderita. Amanah tidak hanya berlangsung satu dua minggu atau dalam hitungan bulan saja. Bisa bertahun-tahun, tidak jarang pula seumur hidup. Yang menjadi persolan bukanlah bentuk dan lamanya. Akan tetapi bagaimana menyikapi amanah ini.

Apa yang telah dihadapi oleh Abdul Azeem diatas adalah salah satu bentuk amanah. Allah SWT memberikan cobaan kepadanya dengan menghadapi buah hatinya sendiri, selama 17 tahun didera nestapa. Sebuah kurun waktu yang tidak singkat. Secara pribadi, apabila saya dihadapkan kepada persoalan yang serupa, bisa saja membuat emosi ini tidak lagi stabil, misalnya mudah tersinggung, marah, dsb. Manusia memang lemah!

Duka yang membalut Abdul Azeem dan keluarganya, saya melihatnya sebagai sebuah hikmah. Dibalik segala derita yang menimpa mereka, hakekatnya betapa besar sebenarnya limpahan kasih sayang Allah SWT, dengan memberikan cobaan, sekaligus kesempatan beramal 24 jam sehari, selama 17 tahun! Buahnya, kini Allah SWT telah 'mengambil' hak milikNya, Abdul Muhymin, kembali menghadapNya. Kembali ke Atas sana, sebagai bunga Surga. Isyaallah!

Syaifoel Hardy
Share:

Pulang Kerja Macet, Bolehkah Menjamak Maghrib dan Isya di Rumah

Assalaamu'alaikum wr. wb.

Ustadz, kalau misalnya saya tidak bisa sholat Maghrib karena masih terjebak macet sepulang bekerja dan mau diqodho (maksudnya dijama' - red.) dengan Isya', bagaimana cara menggabungkannya dan juga bagaimana bacaan niatnya?

Terima kasih atas jawaban Ustadz

Wassalaamu'alaikum wr. wb.

Syaninda
Bekasi

Jawaban:

Assalamu 'alaikum Wr. Wb.

Bismillah, Washshaltu Wassalamu 'ala Rasulillah, Waba'du

Shalat lima waktu adalah kewajiban (fardhu) 'ain bagi setiap muslim dan muslimah. Allah telah menentukan waktu-waktunya. Sebagaimana Allah SWT juga telah memberikan rukhsah (keringanan) bagi musafir atau orang sakit dalam pelaksanaannya.

Namun rukhsah yang Allah berikan tidak berarti boleh dikerjakan sesukanya. Tayammum misalnya, baru boleh dikerjakan bila memang tidak didapat air setelah berusaha mencarinya. Namun dalam kondisi anda berada di tengah kota, tidak bisa dikatakan bahwa anda boleh bertayammum. Bukankah di tengah jalanan yang macet itu justru banyak penjaja minuman kemasan? Apakah minuman kemasan bukan termasuk air? Bukankah di kanan kiri jalan itu ada gedung yang pasti memiliki kran air? Karena itu bertayammum di tengah kota yang berlimpah dengan air tidak dapat dibenarkan.

Begitu juga dengan menjama' shalat Maghrib dan 'Isya'. Waktu Maghrib memang sangat sempit sehingga harus segera dikerjakan. Tetapi waktu 'Isya' sangat panjang hingga menjelang Subuh. Karena itu tidak ada alasan untuk menjama` shalat Isya` dengan Maghrib.

Selain itu harus juga diperhatikan syarat dibolehkannya menjama` dua shalat yaitu bila dalam keadaan safar atau perjalanan. Sedangkan anda masih dalam kategori bukan safar karena masih berada di dalam kota anda sendiri. Safar adalah perjalanan keluar kota yang secara jarak memang ada perbedaan para ulama dalam batas-batasnya. Namun tidak dikatakan safar bila masih dalam kota sendiri. Ini adalah pendapat yang paling kuat.

Jadi yang harus anda lakukan adalah membuat perhitungan bagaimana agar anda bisa shalat Maghrib tepat pada waktunya. Misalnya bila dalam perjalanan pulang anda harus berganti bus, usahakan saat berganti bus itu anda bisa mencari tempat shalat. Dalam hal ini tidak harus berupa masjid atau mushalla, tetapi sebuah tempat yang bersih di mana saja asal anda bisa melakukan shalat.

Bisa terminal, emper toko, halaman, trotoar dan sebagainya. Karena kelebihan umat Nabi Muhammad SAW adalah dijadikan bumi ini sebagai masjid, di mana pun kamu harus shalat maka shalatlah di mana pun di muka bumi. Yang penting anda sudah punya wudhu. Bila tidak, anda bisa membawa bekal sebuah botol kemasan yang anda isi dengan air dan anda bisa berwudlu` cukup dengan air sebotol itu. Ini lebih ekonomis dari pada membeli air minum kemasan yang dijual di jalan.

Alternatif kedua seperti yang dilakukan oleh banyak orang, anda bisa menunda waktu pulang anda hingga Maghrib tiba lalu tunaikan shalat Maghrib di tempat kerja anda setelah itu silahkan pulang ke rumah. Konon bila pulang di atas Mahgrib, kemacetan jalan sudah mulai berkurang. Sedangkan shalat Isya` cukup anda lakukan nanti di rumah karena waktu masih panjang.

Sedangkan masalah lafaz niat telah tidaklah menjadi syarat dalam ibadah shalat, karena lafaz itu bukanlah niat itu sendiri. Sebab yang menjadi rukun shalat adalah niat yang ada di dalam hati pada saat mau melaksanakanya. Adapun lafaz hanyalah penguat dari niat itu bagi mereka yang mengakui adanya lafaz niat dalam shalat.

Wallahu a'lam bishshawab Wassalamu 'alaikum Wr. Wb.

Ahmad Sarwat, Lc.
Share:

Cara Mandi Junub yang Benar

Assalaamu'alaikum wr. wb.

Pak ustadz, saya ingin menanyakan bagaimana cara mandi wajib yang baik dan benar, karena selama ini saya masih ragu apakah cara mandi saya ini sudah benar. Mohon jawabannya.

Wassalaamu'alaikum wr. wb.

John Dalaton
Jakarta Selatan

Jawaban:

Assalamu 'alaikum Wr. Wb.

Bismillah, Washshaltu Wassalamu 'ala Rasulillah, Waba'du.

Mandi wajib adalah istilah yang sering digunakan oleh masyarakat kita. Nama sebenarnya adalah mandi janabah/junub. Mandi ini merupakan tatacara/ritual yang bersifat ta'abbudi dan bertujuan menghilangkan hadats besar. Bukan semata-mata mandi untuk membersihkan diri dari kuman dan kotoran yang melekat di badan. Sebab mandi janabah ini tidak mensyaratkan dipakainya sabun, shampo atau zat-zat lainnya. Cukup dengan air dan diratakan ke seluruh tubuh.

Untuk lebih jelasnya, harus juga dipahami tentang [A] rukun mandi janabah, [B] cara mandi janabat [C] sunnah dalam mandi janabah dan juga [D] hal-hal lain yang harus diperhatikan dalam mandi janabah.

A. Rukun Mandi Janabah

Untuk melakukan mandi janabah, maka ada dua hal yang harus dikerjakan karena merupakan rukun/pokok:

1. Niat dan menghilangkan najis dari badan bila ada.
Sabda Nabi SAW, Semua perbuatan itu tergantung dari niatnya. (HR Bukhari dan Muslim)

2. Meratakan air ke seluruh tubuh (termasuk rambut).
Sabda Nabi SAW, Setiap bagian di bawah rambut adalah janabah, maka basahkanlah rambutmu dan bersihkanlah kulit.

B. Tata Cara Mandi Janabah
Pertama kedua tangan dicuci, kemudian mandi pertama kepala, kemudian terus dari bagian sebelah kanan, kemudian kiri, terakhir cuci kaki.

Adapun urutan-urutan tata cara mandi junub, adalah sebagai berikut:

1. Mencuci kedua tangan dengan tanah atau sabun lalu mencucinya sebelum dimasukan ke wajan tempat air.
2. Menumpahkan air dari tangan kanan ke tangan kiri.
3. Mencuci kemaluan dan dubur.
4. Najis-najis dibersihkan.
5. Berwudhu sebagaimana untuk sholat, dan menurut jumhur disunnahkan untuk mengakhirkan mencuci kedua kaki.
6. Memasukan jari-jari tangan yang basah dengan air ke sela-sela rambut, sampai ia yakin bahwa kulit kepalanya telah menjadi basah.
7. Menyiram kepala dengan 3 kali siraman.
8. Membersihkan seluruh anggota badan.
9. Mencuci kaki.

Dalil:
Aisyah r.a. berkata, "Ketika mandi janabah, Nabi SAW memulainya dengan mencuci kedua tangannya, kemudian ia menumpahkan air dari tangan kanannya ke tangan kiri lalu ia mencuci kemaluannya kemudia berwudku seperti wudhu` orang shalat. Kemudian beliau mengambil air lalu memasukan jari-jari tangannya ke sela-sela rambutnya, dan apabila ia yakin semua kulit kepalanya telah basah beliau menyirami kepalnya 3 kali, kemudian beliau membersihkan seluruh tubuhnya dengan air kemudian diakhir beliau mencuci kakinya." (HR Bukhari/248 dan Muslim/316)

C. Sunnah-Sunnah yang Dianjurkan dalam Mandi Janabah.

1. Membaca basmalah.
2. Membasuh kedua tangan sebelum memasukkan ke dalam air.
3. Berwudhu' sebelum mandi.
Aisyah RA berkata, "Ketika mandi janabah, Nabi SAW berwudlu seperti wudhu' orang shalat." (HR Bukhari dan Muslim)
4. Menggosokkan tangan ke seluruh anggota tubuh. Hal ini untuk membersihkan seluruh anggota badan.
5. Mendahulukan anggota kanan dari anggota kiri seperti dalam berwudhu'.

D. Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan ketika Mandi Junub.

a. Mendahulukan anggota kanan dari anggota kiri seperti dalam berwudhu`. Hal tersebut sebagaimana ditegaskan oleh hadits dari Aisyah, ia berkata, "Rasulullah SAW menyenangi untuk mendahulukan tangan kanannya dalam segala urusannya; memakai sandal, menyisir dan bersuci." (HR Bukhori/5854 dan Muslim/268)

b. Tidak perlu berwudhu lagi setelah mandi. Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits dari Aisyah RA, ia berkata: Rasulullah SAW mandi kemudian sholat dua rakaat dan sholat shubuh, dan saya tidak melihat beliau berwudhu setelah mandi (HR Abu Daud, at-Tirmidzy dan Ibnu Majah).

Wallahu a'lam bishshawab Wassalamu 'alaikum Wr. Wb.

Ahmad Sarwat, Lc.
Share:

Hadiah Kesabaran

Rumah yang mereka tempati sederhana. Sesederhana penghuninya. Bukan milik mereka berdua, namun rumah dinas. Shaila, perempuan yang tengah hamil tua itu tersenyum menyambut kedatangan kami berlima, tamunya. Kami memang sudah lama tidak bersua, bahkan semenjak Shaila belum menikah dengan Rais, yang masih kuliah hingga sekarang.

"Alhamdulilah kami bisa menempati rumah ini!" kata Shaila mengawali bincang-bincang kami, sementara saya melihat-lihat sudut-sudut ruangan yang nampaknya belum selesai dibersihkan. Maklum baru ditempati.

Sambil melemparkan pandangan kesana-kemari, dalam hati saya berpikir, betapa beratnya membersihkan rumah yang lama nampaknya tidak ditempati ini. Rumah dinas itu konon sudah lebih dari sepuluh tahun tidak dihuni. Bisa dibayangkan betapa beratnya kalau kita harus membersihkan dan merapikan perabotan dalam bulan-bulan pertama. Kelelahan yang saya bayangkan ini ternyata tidak tergambar dalam raut muka si empunya rumah. Sebaliknya, Shaila dan Rais justru penuh senyuman yang membuat kami makin betah tinggal disana. "Rumahku Surgaku". Barangkali begitu prinsip mereka!

Pertemuan Shaila dan Rais terjadi karena si Rais aktif mengurusi pengajian kelompok. Demikian pula Shaila. Ada 5 orang pemuda sebaya Rais yang barangkali karena semangatnya sebagai pemuda dan pelajar, sehingga urusan pengajian menjadikan sebagian kegiatan yang menyenangkan. Tinggal di luar negeri, belajar sambil beribadah, mengurusi pengajian kelompok masyarakat mereka.

Rais dan Shaila dipertemukan oleh Allah SWT karena kegiatan positif ini. Tidak ada satu kekuatanpun yang mampu menghalangi yang satu ini, jodoh, jika sudah dikehendaki olehNya. Meski si Shaila sudah bekerja dan Rais masih sekolah. Meski keduanya belum bisa dikatakan siap secara finansial. Meski si Shaila waktu itu diliputi kebingungan kelak akan tinggal di mana jika sudah menikah. Dan masih banyak "meski-meski" lainnya. Allah SWT-lah yang menentukan. "Kun..! (Jadilah!)" maka, jadilah mereka sepasang suami-istri yang sah. Subhanallah!

Shaila semula tinggal di sebuah asrama bujangan milik pemerintah. Dua kamar dalam satu flat. Sesudah pernikahannya dengan Rais, Shaila memang belum mampu untuk pindah keluar dari asrama dan mencari pondokan sendiri. Sementara Rais yang masih sekolah, juga tinggal di asrama pelajar. Jadi sebagai suami-istri, mereka "mencuri-curi" kesempatan.

Shaila menyadari bahwa jikalau Rais datang ke asramanya, meski mereka sudah menikah, teman se-flat Shaila nampaknya kurang senang. Naluri kewanitaan Shaila yang membaca suasana ini. Sehingga Rais hanya datang di kala teman Shaila sedang bertugas atau tidak ada di rumah. Kalaupun terpaksa, biasanya Shaila melarang Rais untuk tidak keluar kamar selagi teman Shaila ada di kamar sebelah. Entah apa yang membuat Shaila sepertinya takut sekali terhadap rekan sekerja di asramanya. Yang jelas Shaila memang tidak ingin menyakiti hatinya, sekalipun Rais adalah suami Shaila yang sah.

Waktupun terus berlalu. Nampaknya teman se-flat Shaila, sebut saja Ira namanya tidak betah melihat "pemandangan" di depannya. Shaila menyadari betul situasi ini. Kamar yang ditempatinya memang bukanlah disediakan untuk keluarga. Adalah ilegal jika keluarga tinggal di dalam asrama. Shaila tahu betul akan peraturan yang satu ini. Hanya saja, karena Shaila sudah berumah-tangga, sementara sang suami juga tinggal di asrama pelajar, satu-satunya jalan keluar untuk mengatasi hal ini adalah harapan Shaila terhadap rekan se-flatnya untuk mengerti akan keadaannya. Ternyata harapan Shaila tak tersambut.

Perang dingin pun terjadi. "Kan sudah aku kasih tahu, kenapa mau juga masih bawa suamimu ke sini," tanya Ira suatu hari. Menyadari akan kesalahan ini, Shaila hanya diam. "Kalau kamu masih ulangi lagi, saya akan laporkan, bahwa kamu membawa orang lain ke kamar!" ancam Ira terhadap Shaila.

Shaila yang penakut, semakin gelisah mengingat ancaman-ancaman dan sikap yang semakin tidak bersahabat dari Ira semenjak pernikahannya dengan Rais. Padahal dulu sikap Ira tidaklah demikian. Bahkan kala menyelenggarakan pengajian bulanan atau arisan bersama, mereka selalu nampak rukun dan bekerja sama menangani segala kebutuhan kelompok. Apa yang menyebabkan si Ira begitu berbeda adalah di luar jangkauan Shaila. Makanya Shaila amat sedih dibuatnya.

"Bagaimana jika kita pindah saja dari sini? Apapun yang terjadi, barangkali itu lebih baik ketimbang hubungan saya dan Ira semakin keruh!" begitu keluh Shaila kepada Rais suatu hari. "Tapi pindah ke mana? Status saya tidak memungkinkan, apalagi saya tidak memiliki penghasilan, kecuali uang saku yang teramat sedikit jumlahnya jika dibandingkan dengan jumlah kebutuhan bulanan kita," si Rais mencoba menjelaskan sekali lagi kepada Shaila tentang keadaannya, sekalipun Shaila sebenarnya sudah mengerti.

Shaila mendengar berita bahwa kisah suaminya yang sering menginap di asrama puteri sudah sampai "ke atas". Artinya, ada orang yang melaporkan ke sana, yang membuat hatinya semakin sedih. Sebelum Shaila menerima surat peringatan akan hal ini, dia berharap segera mendapatkan jalan keluar.

Beberapa saat sesudah itu, Rais ketemu Zulkarnaen, rekan sepengajian. Sebagaimana biasa, perbincangan mereka dari yang sifatnya umum, merambat kepada persoalan rumah tangga. Hingga sampailah kepada permasalahan kamar mereka. "Bagaimana kalau tinggal di tempat kami saja? Biar aku tinggal di kamar sebelah bersama rekan." Begitu ungkap Zulkarnaen mencoba menwarkan jasa baiknya.

Rais terdiam, antara senang dan susah. Sebegitu besar pengorbanan mereka. Demikian batinnya. Dalam hati dia tidak ingin menyusahkan temannya, namun dilain pihak, dia juga tidak tega melihat sang istri Shaila menderita batin di asrama manakala Rais mengunjunginya. Lagi pula, sebagai suami-istri mereka tidak selalu bisa bertemu setiap hari karena kendala yang selama ini mereka alami.

Semula Rais berharap-harap cemas atas berita yang akan disampaikan oleh Zulkarnaen hari itu. Rais tahu betul sifat Zulkarnaen yang jika membantu seseorang tidak sebedar di bibir. "Subhanallah. Terimakasih Zul...!" kata Rais ketika Zulkarnaen menyampaikan berita bahwa rekan se-flatnya tidak keberatan akan niat baik Zulkarnaen, yang pula tinggal di apartemen milik pemerintah, untuk bujangan pria. Akhirnya Shaila dan Rais pindah ke flat tempat Zulakrnaen. Legalah perasaan mereka. Di sinipun mereka tinggal gratis. Rais berpikir toh mereka tidak akan selamanya tinggal disana.

Rupanya kepindahan mereka kali inipun belum menjanjikan perbaikan nasib. Karena selang beberapa minggu kemudian, mereka mendapatkan berita "buruk". Bahwa pada dasarnya mereka tidak memiliki izin tinggal di asrama tersebut. Ada orang yang kurang senang yang melaporkan kejadian tersebut ke kantor pusat yang mengurusi pemondokan itu.

Batin Shaila kembali menangis. Shaila bingung sekali menghadapi kenyataan ini. Bingung karena harus pergi ke mana. Si Rais, meski sebagai suami, namun belum mapan ekonominya, juga dihadapkan pada persoalan yang amat pelik. Tidak pindah ini melanggar hukum dan dapat tekanan, mau pindah ini uang dari mana untuk beaya sewa rumah? Apa yang dikuatirkan kemudian terjadi. Sepasang suami-istri ini kemudian menerima surat panggilan dari dinas, yang mengurusi pemondokan mereka, termasuk Shaila.

Dalam kegaduhan yang tidak menentu, mereka esoknya menemui sang manager. "Orang-orang kamu ini bagaimana sih? Yang melaporkan kamu ini juga orang-orang dari bangsamu sendiri, bukanya orang lain!" Kata sang manager, menyatakan bahwa laporan yang diterimanya adalah dari orang-orang yang tidak lain adalah rekan-rekan kerja Shaila sendiri. Rasanya malu sekali Shaila mendengarnya.

Rais dan Shaila makin bergetar hati menunggu vonis yang bakal mereka terima nanti sebagai konsekuensi tinggal mereka yang tanpa izin. Namun betapa mereka terkejut ketika sang manager memberikan sebuah kunci, dan "Mulai besok, kamu harus keluar dari apartemen Zulkarnaen. Ini kunci rumahnya, dan kamu bisa tinggal di sana mulai besok. Tolong dibersihkan, karena rumah tersebut sudah lama tidak ada penghuninya!"

"Subhanallah!" Begitu ungkap Rais dan Shaila menerima berkah dari Allah SWT. Mereka semula sangat takut. Namun, siap menerima sangsi yang bakal diberikan. Hari ini, bukannya hukuman yang mereka terima, tetapi hadiah. Shaila menangis! Terharu menghadapi semua kenyataan ini.

Shaila jadi ingat ketika suatu hari Rasulullah SAW bersama Umar r.a sedang melayat, di tengah jalan mereka ketemu seorang Yahudi, Zaid Bin Su'nah namanya. Tiba-tiba ghamis Rasulullah SAW ditarik dengan keras olehnya, sambil berkata kasar "Hai Muhammad, kembalikan hutangmu..!" sementara itu, leher Rasulullah, karena tarikan keras ghamisnya, membekas kemerahan. Melihat sikap kasar tersebut, nyaris Umar r.a. membabat leher si Zaid. "Kalau bukan karena Rasulullah melarang, sudah aku tebas kepalamu!" kata Umar. "Umar, mestinya aku dan dia lebih membutuhkan perkara yang lain!" kata Rasulullah, maksudnya nasihat. Rasulullah SAW membutuhklan nasihat untuk melunasi hutangnya dan si Zaid membutuhkan nasihat untu meminta hutangnya dengan baik. "Umar, berikan hak-haknya, dan tambahkan dua puluh sa' kurma!" perintah Rasulullah SAW kepada Umar r.a.

Melihat Umar membawa serta hutang ditambah 20 sa' kurma, sang Zaid terkejut. "Ada apa ini Umar?" "Rasulullah memerintahkan saya untuk memberikan ini kepadamu sebagai imbalan kemarahanmu!"

"Siapa kamu sebenarnya? Kenapa kamu berbuat demikian kasar terhadap Rasulullah?" kata Umar. "Saya Zaid bin Su'na. Pendeta Yahudi. Saya sudah mengamati sejak dari dulu tanda-tanda kenabian yang ada pada Muhammad, kecuali dua hal: kesabarannya bisa memupus kejahilan dan kejahilan yang ditujukan kepadanya bisa menambah kemurahan hatinya. Karena itu ketahuilah ya Umar, aku bersaksi bahwa tiada Tuha selain Allah dan Muhammad adalah Rasulullah."

Esok harinya Shaila dan Rais berkemas menuju rumah "baru" mereka, sebagai "hadiah" kesabaran yang selama ini mereka jalani. Rumahnya kotor sekali. Perabotan-perabotan yang ada di dalamnya sudah banyak yang rusak. Shaila merapikan perabotan-perabotan tersebut. Bahkan korden pun dia lipati karena kuatir ada orang lain yang memilikinya. Meja kursi pun banyak yang patah kakinya. Sepasang suami istri ini menggotong bersama barang-barang tersebut ke tepi. Karpet rumah juga sudah tidak lagi layak dipakai. Debunya barangkali bisa diukur dalam hitungan centimeter.

Hari kedua sesudah mereka bersihkan rumah, sang manager datang lagi. Kali ini bukan melihat hasil bagaimana mereka membereskan rumah yang tidak dihuni selama sepuluh tahun tersebut. Sebaliknya dia membawa barang-barang kebutuhan rumah, termasuk meja-kursi baru, korden, karpet, dan sebagainya, untuk pasangan muda tersebut.

Subhanallalah. Melihat Rais dan Shaila saya jadi teringat betapa kita kadang tidak pernah sabar dalam menghadapi sebuah cobaan. Bukannya syukur yang terungkap namun cemoohan. Padahal Allah SWT selalu akan menggantikannya dengan yang jauh lebih baik. Mungkin saja tidak sekarang tapi nanti. Dan itu pasti!

Sebagaimana kisah Rasulullah SAW dan Pendeta Yahudi Zaid yang diriwayatkan oleh Hadist Riwayat (HR) Hakim diatas, ternyata sabar selalu berbuah positif bahkan mampu memupus kejahilan. Tidak ada kamus kalah-menang untuk urusan yang satu ini. Dan, sekiranya kesabaran diterapkan sebagai sebuah ibadah, seperti yang dialami Rais dan Shaila, tidak ada istilah kesengsaraan dalam lembaran-lembaran kehidupan. Yang ada hanyalah kenikmatan yang tertunda!

Syaifoel Hardy
shardy at emirates dot net dot ae
Share:

Jadwal Sholat

Popular Posts

Label

Arsip Blog

Recent Posts

Pages

Blog Archive

Categories