Hari ini adalah hasil dari rencana kemarin, masa depan adalah rencana hari ini. Tak ada cerita masa lalu tanpa ada sejarah. Tak ada sejarah jika tak ada yang mencatat dan memberi hikmah bagi generasi yang akan datang.

  • This is default featured slide 1 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 2 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 3 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 4 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 5 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Tampilkan postingan dengan label Tauhid. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tauhid. Tampilkan semua postingan

MENJAWAB TUDUHAN TANPA REKAYASA

(jangan kalian gagal paham)

*by.zab-FPI ASWAJA*

Inilah Dalil Tahlilan 3,7,25,40,100, & 1000 Hari Yang Wajib Anda Tahu
23 Januari 2018 Abdul Wahab
Tak henti-hentinya Wahabi Salafi menyalahkan Amaliyah Aswaja, khususnya di Indonesia ini. Salah satu yang paling sering juga mereka fitnah adalah Tahlilan yang menurutnya tidak berdasarkan Dalil bahkan dianggap rujukannya dari kitab Agama Hindu. Untuk itu, kali ini saya tunjukkan Dalil-Dalil Tahlilan 3, 7, 25, 40, 100, Setahun & 1000 Hari dari Kitab Ulama Ahlussunnah wal Jamaah, bukan kitab dari agama hindu sebagaimana tuduhan fitnah kaum WAHABI

ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺍﻟﺪﻋﺎﺀ ﻭﺍﻟﺼﺪﻗﺔ ﻫﺪﻳﺔ ﺇﻟﻰﺍﻟﻤﻮتى

ﻭﻗﺎﻝ ﻋﻤﺮ : ﺍﻟﺼﺪﻗﺔ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﺪﻓﻨﻰ ﺛﻮﺍﺑﻬﺎ ﺇﻟﻰ ﺛﻼﺛﺔ ﺃﻳﺎﻡ ﻭﺍﻟﺼﺪﻗﺔ ﻓﻰ ﺛﻼﺛﺔ ﺃﻳﺎﻡ ﻳﺒﻘﻰ ﺛﻮﺍﺑﻬﺎ ﺇﻟﻰ ﺳﺒﻌﺔ ﺃﻳﺎﻡ ﻭﺍﻟﺼﺪﻗﺔ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﺴﺎﺑﻊ ﻳﺒﻘﻰ ﺛﻮﺍﺑﻬﺎ ﺇﻟﻰ ﺧﻤﺲ ﻭﻋﺸﺮﻳﻦ ﻳﻮﻣﺎ ﻭﻣﻦ ﺍﻟﺨﻤﺲ ﻭﻋﺸﺮﻳﻦ ﺇﻟﻰ ﺃﺭﺑﻌﻴﻦ ﻳﻮﻣﺎ ﻭﻣﻦ ﺍﻷﺭﺑﻌﻴﻦ ﺇﻟﻰ ﻣﺎﺋﺔ ﻭﻣﻦ ﺍﻟﻤﺎﺋﺔ ﺇﻟﻰ ﺳﻨﺔ ﻭﻣﻦ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﺇﻟﻰ ﺃﻟﻒ عام (الحاوي للفتاوي ,ج:۲,ص: ١٩٨

Rasulullah saw bersabda: “Doa dan shodaqoh itu hadiah kepada mayyit.”
Berkata Umar: “shodaqoh setelah kematian maka pahalanya sampai tiga hari dan shodaqoh dalam tiga hari akan tetap kekal pahalanya sampai tujuh hari, dan shodaqoh tujuh hari akan kekal pahalanya sampai 25 hari dan dari pahala 25 sampai 40 harinya akan kekal hingga 100 hari dan dari 100 hari akan sampai kepada satu tahun dan dari satu tahun sampailah kekalnya pahala itu hingga 1000 hari.”

Referensi : (Al-Hawi lil Fatawi Juz 2 Hal 198)

Jumlah-jumlah harinya (3, 7, 25, 40, 100, setahun & 1000 hari) jelas ada dalilnya, sejak kapan agama Hindu ada Tahlilan???

Berkumpul ngirim doa adalah bentuk shodaqoh buat mayyit.

ﻓﻠﻤﺎ ﺍﺣﺘﻀﺮﻋﻤﺮ ﺃﻣﺮ ﺻﻬﻴﺒﺎ ﺃﻥ ﻳﺼﻠﻲ ﺑﺎﻟﻨﺎﺱ ﺛﻼﺛﺔ ﺃﻳﺎﻡ ، ﻭﺃﻣﺮ ﺃﻥ ﻳﺠﻌﻞ ﻟﻠﻨﺎﺱ ﻃﻌﺎﻡ، ﻓﻴﻄﻌﻤﻮﺍ ﺣﺘﻰ ﻳﺴﺘﺨﻠﻔﻮﺍ ﺇﻧﺴﺎﻧﺎ ، ﻓﻠﻤﺎ ﺭﺟﻌﻮﺍ ﻣﻦ ﺍﻟﺠﻨﺎﺯﺓ ﺟﺊ ﺑﺎﻟﻄﻌﺎﻡ ﻭﻭﺿﻌﺖ ﺍﻟﻤﻮﺍﺋﺪ ! ﻓﺄﻣﺴﻚ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻋﻨﻬﺎ ﻟﻠﺤﺰﻥ ﺍﻟﺬﻱ ﻫﻢ ﻓﻴﻪ ، ﻓﻘﺎﻝ ﺍﻟﻌﺒﺎﺱ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻤﻄﻠﺐ : ﺃﻳﻬﺎ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺇﻥ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﺪ ﻣﺎﺕ ﻓﺄﻛﻠﻨﺎ ﺑﻌﺪﻩ ﻭﺷﺮﺑﻨﺎ ﻭﻣﺎﺕ ﺃﺑﻮ ﺑﻜﺮ ﻓﺄﻛﻠﻨﺎ ﺑﻌﺪﻩ ﻭﺷﺮﺑﻨﺎ ﻭﺇﻧﻪ ﻻﺑﺪ ﻣﻦ ﺍﻻﺟﻞ ﻓﻜﻠﻮﺍ ﻣﻦ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻄﻌﺎﻡ ، ﺛﻢ ﻣﺪ ﺍﻟﻌﺒﺎﺱ ﻳﺪﻩ ﻓﺄﻛﻞ ﻭﻣﺪ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺃﻳﺪﻳﻬﻢ ﻓﺄﻛﻠﻮﺍ

Ketika Umar sebelum wafatnya, ia memerintahkan pada Shuhaib untuk memimpin shalat, dan memberi makan para tamu selama 3 hari hingga mereka memilih seseorang, maka ketika hidangan–hidangan ditaruhkan, orang – orang tak mau makan karena sedihnya, maka berkatalah Abbas bin Abdulmuttalib:

Wahai hadirin.. sungguh telah wafat Rasulullah saw dan kita makan dan minum setelahnya, lalu wafat Abubakar dan kita makan dan minum sesudahnya, dan ajal itu adalah hal yang pasti, maka makanlah makanan ini..!”, lalu beliau mengulurkan tangannya dan makan, maka orang–orang pun mengulurkan tangannya masing–masing dan makan.

Referensi: [Al Fawaidussyahiir Li Abi Bakar Assyafii juz 1 hal 288, Kanzul ummaal fii sunanil aqwaal wal af’al Juz 13 hal 309, Thabaqat Al Kubra Li Ibn Sa’d Juz 4 hal 29, Tarikh Dimasyq juz 26 hal 373, Al Makrifah wattaarikh Juz 1 hal 110]

Kemudian dalam kitab Imam As Suyuthi, Al-Hawi li al-Fatawi:

ﻗﺎﻝ ﻃﺎﻭﻭﺱ : ﺍﻥ ﺍﻟﻤﻮﺗﻰ ﻳﻔﺘﻨﻮﻥ ﻓﻲ ﻗﺒﻮﺭﻫﻢ ﺳﺒﻌﺎ ﻓﻜﺎﻧﻮﺍ ﻳﺴﺘﺤﺒﻮﻥ ﺍﻥ ﻳﻄﻌﻤﻮﺍ ﻋﻨﻬﻢ ﺗﻠﻚ ﺍﻻﻳﺎﻡ

Imam Thawus berkata: “Sungguh orang-orang yang telah meninggal dunia difitnah dalam kuburan mereka selama tujuh hari, maka mereka (sahabat) gemar menghidangkan makanan sebagai ganti dari mereka yang telah meninggal dunia pada hari-hari tersebut.”

ﻋﻦ ﻋﺒﻴﺪ ﺑﻦ ﻋﻤﻴﺮ ﻗﺎﻝ : ﻳﻔﺘﻦ ﺭﺟﻼﻥ ﻣﺆﻣﻦ ﻭﻣﻨﺎﻓﻖ , ﻓﺎﻣﺎ ﺍﻟﻤﺆﻣﻦ ﻓﻴﻔﺘﻦ ﺳﺒﻌﺎ ﻭﺍﻣﺎﺍﻟﻤﻨﺎﻓﻖ ﻓﻴﻔﺘﻦ ﺍﺭﺑﻌﻴﻦ ﺻﺒﺎﺣﺎ

Dari Ubaid bin Umair ia berkata: “Dua orang yakni seorang mukmin dan seorang munafiq memperoleh fitnah kubur. Adapun seorang mukmin maka ia difitnah selama tujuh hari, sedangkan seorang munafiq disiksa selama empat puluh hari.”

Dalam tafsir Ibn Katsir (Abul Fida Ibn Katsir al Dimasyqi Al Syafi’i) 774 H beliau mengomentari ayat 39 surah an Najm (IV/236: Dar el Quthb), beliau mengatakan Imam Syafi’i berkata bahwa tidak sampai pahala itu, tapi di akhir2 nya beliau berkomentar lagi

ﻓﺄﻣﺎ ﺍﻟﺪﻋﺎﺀ ﻭﺍﻟﺼﺪﻗﺔ ﻓﺬﺍﻙ ﻣﺠﻤﻊ ﻋﻠﻰ ﻭﺻﻮﻟﻬﻤﺎ ﻭﻣﻨﺼﻮﺹ ﻣﻦ ﺍﻟﺸﺎﺭﻉ ﻋﻠﻴﻬﻤﺎ

bacaan alquran yang dihadiahkan kepada mayit itu sampai, Menurut Imam Syafi’i pada waktu beliau masih di Madinah dan di Baghdad, qaul beliau sama dengan Imam Malik dan Imam Hanafi, bahwa bacaan al-Quran tidak sampai ke mayit, Setelah beliau pindah ke mesir, beliau ralat perkataan itu dengan mengatakan bacaan alquran yang dihadiahkan ke mayit itu sampai dengan ditambah berdoa “Allahumma awshil.…dst.”, lalu murid beliau Imam Ahmad dan kumpulan murid2 Imam Syafi’i yang lain berfatwa bahwa bacaan alquran sampai.

Pandangan Hanabilah, Taqiyuddin Muhammad ibnu Ahmad ibnu Abdul Halim (yang lebih populer dengan julukan Ibnu Taimiyah dari madzhab Hambali) menjelaskan:

ﺍَﻣَّﺎ ﺍﻟﺼَّﺪَﻗَﺔُ ﻋَﻦِ ﺍﻟْﻤَﻴِّﺖِ ﻓَـِﺎﻧَّﻪُ ﻳَﻨْـﺘَـﻔِﻊُ ﺑِﻬَﺎ ﺑِﺎﺗِّـﻔَﺎﻕِ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻤِﻴْﻦَ. ﻭَﻗَﺪْ ﻭَﺭَﺩَﺕْ ﺑِﺬٰﻟِﻚَ ﻋَﻦِ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪ ُﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺍَﺣَﺎ ﺩِﻳْﺚُ ﺻَﺤِﻴْﺤَﺔٌ ﻣِﺜْﻞُ ﻗَﻮْﻝِ ﺳَﻌْﺪٍ ( ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮْﻝَ ﺍﻟﻠﻪِ ﺍِﻥَّ ﺍُﻣِّﻲْ ﺍُﻓْﺘـُﻠِﺘـَﺖْ ﻧَﻔْﺴُﻬَﺎ ﻭَﺍَﺭَﺍﻫَﺎ ﻟَﻮْ ﺗَـﻜَﻠَّﻤَﺖْ ﺗَﺼَﺪَّﻗَﺖْ ﻓَﻬَﻞْ ﻳَﻨْـﻔَـﻌُﻬَﺎ ﺍَﻥْ ﺍَﺗَـﺼَﺪَّﻕَ ﻋَﻨْﻬَﺎ ؟ ﻓَﻘَﺎﻝَ: ﻧَـﻌَﻢْ , ﻭَﻛَﺬٰﻟِﻚَ ﻳَـﻨْـﻔَـﻌُﻪُ ﺍﻟْﺤَﺞُّ ﻋَﻨْﻪُ ﻭَﺍْﻻُ ﺿْﺤِﻴَﺔُ ﻋَﻨْﻪُ ﻭَﺍﻟْﻌِﺘْﻖُ ﻋَﻨْﻪُ ﻭَﺍﻟﺪُّﻋَﺎﺀُ ﻭَﺍْﻻِﺳْﺘِـْﻐﻒُﺭﺍَ ﻟَﻪُ ﺑِﻼَ ﻧِﺰﺍَﻉٍ ﺑَﻴْﻦَ ﺍْﻷَﺋِﻤَّﺔِ .

“Adapun sedekah untuk mayit, maka ia bisa mengambil manfaat berdasarkan kesepakatan umat Islam, semua itu terkandung dalam beberapa hadits shahih dari Nabi Saw. seperti perkataan sahabat Sa’ad “Ya Rasulallah sesungguhnya ibuku telah wafat, dan aku berpendapat jika ibuku masih hidup pasti ia bersedekah, apakah bermanfaat jika aku bersedekah sebagai gantinya?” maka Beliau menjawab “Ya”, begitu juga bermanfaat bagi mayit: haji, qurban, memerdekakan budak, do’a dan istighfar kepadanya, yang ini tanpa perselisihan di antara para imam”.

Referensi : (Majmu’ al-Fatawa: XXIV/314-315)

Ibnu Taimiyah juga menjelaskan perihal diperbolehkannya menyampaikan hadiah pahala shalat, puasa dan bacaan al-Qur’an kepada:

ﻓَﺎِﺫَﺍ ﺍُﻫْﺪِﻱَ ﻟِﻤَﻴِّﺖٍ ﺛَﻮَﺍﺏُ ﺻِﻴﺎَﻡٍ ﺍَﻭْ ﺻَﻼَﺓٍ ﺍَﻭْ ﻗِﺮَﺋَﺔٍ ﺟَﺎﺯَ ﺫَﻟِﻚَ

Artinya: “jika saja dihadiahkan kepada mayit pahala puasa, pahala shalat atau pahala bacaan (al-Qur’an / kalimah thayyibah) maka hukumnya diperbolehkan”.

Referensi : (Majmu’ al-Fatawa: XXIV/322)

Al-Imam Abu Zakariya Muhyiddin Ibn al-Syarof, dari madzhab Syafi’i yang terkenal dengan panggilan Imam Nawawi menegaskan;

ﻳُﺴْـﺘَـﺤَﺐُّ ﺍَﻥْ ﻳَـﻤْﻜُﺚَ ﻋَﻠﻰَ ﺍْﻟﻘَﺒْﺮِ ﺑَﻌْﺪَ ﺍﻟﺪُّﻓْﻦِ ﺳَﺎﻋَـﺔً ﻳَﺪْﻋُﻮْ ﻟِﻠْﻤَﻴِّﺖِ ﻭَﻳَﺴْﺘَﻐْﻔِﺮُﻝُﻩَ. ﻧَـﺺَّ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍﻟﺸَّﺎﻓِﻌِﻰُّ ﻭَﺍﺗَّﻔَﻖَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍْﻻَﺻْﺤَﺎﺏُ ﻗَﺎﻟﻮُﺍ: ﻳُﺴْـﺘَـﺤَﺐُّ ﺍَﻥْ ﻳَـﻘْﺮَﺃَ ﻋِﻨْﺪَﻩُ ﺷَﻴْﺊٌ ﻣِﻦَ ﺍْﻟﻘُﺮْﺃَﻥِ ﻭَﺍِﻥْ خَتَمُوْا اْلقُرْآنَ كَانَ اَفْضَلَ ) المجموع جز 5 ص 258(

“Disunnahkan untuk diam sesaat di samping kubur setelah menguburkan mayit untuk mendo’akan dan memohonkan ampunan kepadanya”, pendapat ini disetujui oleh Imam Syafi’i dan pengikut-pengikutnya, dan bahkan pengikut Imam Syafi’i mengatakan “sunnah dibacakan beberapa ayat al-Qur’an di samping kubur si mayit, dan lebih utama jika sampai mengha tamkan al-Qur’an”.

Selain paparannya di atas Imam Nawawi juga memberikan penjelasan yang lain seperti tertera di bawah ini;

ﻭَﻳُـﺴْـﺘَﺤَﺐُّ ﻟِﻠﺰَّﺍﺋِﺮِ ﺍَﻥْ ﻳُﺴَﻠِّﻢَ ﻋَﻠﻰَ ﺍْﻟﻤَﻘَﺎﺑِﺮِ ﻭَﻳَﺪْﻋُﻮْ ﻟِﻤَﻦْ ﻳَﺰُﻭْﺭُﻩُ ﻭَﻟِﺠَﻤِﻴْﻊِ ﺍَﻫْﻞِ ﺍْﻟﻤَﻘْﺒَﺮَﺓِ. ﻭَﺍْﻻَﻓْﻀَﻞُ ﺍَﻥْ ﻳَﻜُﻮْﻥَ ﺍﻟﺴَّﻼَﻡُ ﻭَﺍﻟﺪُّﻋَﺎﺀُ ﺑِﻤَﺎ ﺛَﺒـَﺖَ ﻣِﻦَ ﺍْﻟﺤَﺪِﻳْﺚِ ﻭَﻳُﺴْـﺘَـﺤَﺐُّ ﺍَﻥْ ﻳَﻘْﺮَﺃَ ﻣِﻦَ ﺍْﻟﻘُﺮْﺃٰﻥِ ﻣَﺎ ﺗَﻴَﺴَّﺮَ ﻭَﻳَﺪْﻋُﻮْ ﻟَﻬُﻢْ ﻋَﻘِﺒَﻬَﺎ ﻭَﻧَﺺَّ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍﻟﺸَّﺎِﻓﻌِﻰُّ ﻭَﺍﺗَّﻔَﻖَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍْﻻَﺻْﺤَﺎﺏُ. (ﺍﻟﻤﺠﻤﻮﻉ ﺟﺰ 5 ص 258 )

“Dan disunnahkan bagi peziarah kubur untuk memberikan salam atas (penghuni) kubur dan mendo’akan kepada mayit yang diziarahi dan kepada semua penghuni kubur, salam dan do’a itu akan lebih sempurna dan lebih utama jika menggunakan apa yang sudah dituntunkan atau diajarkan dari Nabi Muhammad Saw. dan disunnahkan pula membaca al-Qur’an semampunya dan diakhiri dengan berdo’a untuknya, keterangan ini dinash oleh Imam Syafi’i (dalam kitab al-Um) dan telah disepakati oleh pengikut-pengikutnya”.

Referensi : (al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, V/258)

Al-‘Allamah al-Imam Muwaffiquddin ibn Qudamah dari madzhab Hambali mengemukakan pendapatnya dan pendapat Imam Ahmad bin Hanbal

ﻗَﺎﻝَ : ﻭَﻻَ ﺑَﺄْﺱَ ﺑِﺎﻟْﻘِﺮﺍَﺀَﺓِ ﻋِﻨْﺪَ ﺍْﻟﻘَﺒْﺮِ . ﻭَﻗَﺪْ ﺭُﻭِﻱَ ﻋَﻦْ ﺍَﺣْﻤَﺪَ ﺍَﻧَّـﻪُ ﻗَﺎﻝَ: ﺍِﺫﺍَ ﺩَﺧَﻠْﺘﻢُ ﺍﻟْﻤَﻘَﺎﺑِﺮَ ﺍِﻗْﺮَﺋُﻮْﺍ ﺍَﻳـَﺔَ ﺍْﻟﻜُـْﺮﺳِﻰِّ ﺛَﻼَﺙَ ﻣِﺮَﺍﺭٍ ﻭَﻗُﻞْ ﻫُﻮَ ﺍﻟﻠﻪ ُﺍَﺣَﺪٌ ﺛُﻢَّ ﻗُﻞْ ﺍَﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺍِﻥَّ ﻓَﻀْﻠَﻪُ ِﻷَﻫْﻞِ ﺍﻟْﻤَﻘَﺎﺑِﺮِ .

Artinya “al-Imam Ibnu Qudamah berkata: tidak mengapa membaca (ayat-ayat al-Qur’an atau kalimah tayyibah) di samping kubur, hal ini telah diriwayatkan dari Imam Ahmad ibn Hambal bahwasanya beliau berkata: Jika hendak masuk kuburan atau makam, bacalah Ayat Kursi dan Qul Huwa Allahu Akhad sebanyak tiga kali kemudian iringilah dengan do’a: Ya Allah keutamaan bacaan tadi aku peruntukkan bagi ahli kubur.

Referensi : (al-Mughny II/566)

Dalam al Adzkar dijelaskan lebih spesifik lagi seperti di bawah ini:

ﻭَﺫَﻫَﺐَ ﺍَﺣْﻤَﺪُ ْﺑﻦُ ﺣَﻨْﺒَﻞٍ ﻭَﺟَﻤَﺎﻋَﺔٌ ﻣِﻦَ ﺍْﻟﻌُﻠَﻤَﺎﺀِ ﻭَﺟَﻤَﺎﻋَﺔٌ ﻣِﻦْ ﺍَﺻْﺤَﺎﺏِ ﺍﻟﺸَّﺎِﻓـِﻌﻰ ﺍِﻟﻰَ ﺍَﻧـَّﻪُ ﻳَـﺼِﻞ

Sumber : Pecihitam

Share:

PENYAKSIAN DI ALAM ROHALASTU BIRABBIKUM : (Benarkah Aku Tuhan Engkau)


PENYAKSIAN DI ALAM ROH
ALASTU BIRABBIKUM :
(Benarkah Aku Tuhan Engkau)
QALU BALA SHAHIDNA :
(Benar Engkau Tuhan, kami menyaksikan)
Ujud artinya Ada, Mustahil Tiada, Mana yang Mustahil. Adalah Akwan Agiyar kita.
Wajib Allah Ta’ala ada.
Tidak sah Ma’rifat, bila tidak mengetahui asal kejadian Diri kita ini
Mengenal diri itu mengetahui daripada asal Nabi Adam A.S. Asal nasarnya Air, Api, Angin, Tanah, lalu turunlah kepada kita :
Tanah itu = Tubuh kita hurufnya Alif
Angin itu = Nafas kita hurufnya Lam Awal
Api itu = Darah kita hurufnya Lam Akhir
Air itu = Rahsia kita hurufnya Ha
Maka itulah kita ketahui arti mengenal diri
1) Kejadian Tanah bernama Syari’at = Tubuh kita
2) Kejadian Angin bernama Tarikat = Afaal kita
3) Kejadian Api bernama Hakikat = Hati kita
4) Kejadian Air bernama Ma’rifat = Rasa  kita
Itulah mengenal diri namanya.
1) Syariat umpama Kaki
2) Tarikat umpama Tangan
3) Hakikat umpama Tubuh
4) Ma’rifat umpama Kepala
1) Diri Terdiri itu Rahasia namanya
2) Diri Tajalli itu Roh namanya
3) Diri Terperi itu Hati namanya
4) Diri Diperi itu Tubuh namanya
Mengenal Adam :
1) Syari’at : Manusia Pertama
2) Tarikat : Hakikat yang Muncul
3) Hakikat : Asma Allah
4) Ma’rifat : Hanya Allah (ILLallah)
1) ASYHADU bagi kita= Lidah
2) ALLA bagi kita= Badan
3) ILLAHA bagi kita = Hati
4) ILLALLAH bagi kita= Roh
5) HUWA bagi kita = Rahasia
1) sebenar2 Diri kita = Nyawa/Roh
2) sebenar2 Roh kita = Muhammad
3) sebenar2 Muhammad = Allah
4) Sebenar2 Allah = segala Sifat Allah
5) Sebenar2 Sifat Allah = Zadtullah
Sifat Allah Ta’ala adalah hakikat daripada segala yang ada, besar maupun kecil. pada pandangan lahir maupun bathin sbg sifat yang sempurna, tidak bertulang, berdaging, berdarah, atau berkulit.
Maka yang berbagai sifat dan warna adalah satu
Wujud Hakiki itu Zadtullahi. mustahil pada pandangan awam
wujud majazi pula tidak ada pada pandangan wujud hakiki
Wujud ‘Am (umum) pula meliputi alam, dan nyata pada Muhammad
Maka sebenarnya Manusia itu Muhammad
Sebenarnya Muhammad itu Allah (wujud majazi /Wujud Am) . Dan sebenar-benarnya Allah itu Zadtullah (wujud hakiki). Dan sebenarnya Dzatullahi itu Laisa Kamithli Syaiun
Maka itulah sebabnya manusia dilebihkan Allah Ta’ala dari pada semesta sekalian alam karena asalnya kejadian sekalian itu daripada Muhammad
TENTANG ZAT ALLAH
Dalam ilmu tauhid hakiki, ditetapkan bahwa yang disebut "Zat Allah itu mengacu pada Nur Ilahi"
(Q.S. Nur:35, Al-Fusilat:54, Asy-Syura:11, Al-Baqarah:115).
Zat Allah / Nur Ilahi ini juga mengacu pada ruh setiap bani Adam
(Al-Hijr:29, Al-Insan:1, Az-Zariyat:20-21)
Jadi Zat Allah yang meliputi sekalian alam itu disebut Nur Ilahi,Manakala Zat Allah yang ada pada diri manusia itu disebut ruh
Ruh dan Nur Ilahi ini Zat Allah yang sama, bukan berbeda.Ruh dan Nur Ilahi ini esa, bukan becerai.
Itu-itulah juga. Hanya pada manusia itu sebutannya ruh
(sila lihat Q.S. Nur:35,
Menunjukkan Nur Ilahi itu meliputi "luar-dalam")
Zat Allah bersifat Mahasuci, maka  Zat / roh yang ada pada manusia itu disebut Ruh al-Quds atau Ruhul Qudus,Ruh yang bersifat Mahasuci.
ﻓَﺈِﺫَﺍ ﺳَﻮَّﻳۡﺘُﻪُ
ۥ ﻭَﻧَﻔَﺨۡﺖُ ﻓِﻴﻪِ ﻣِﻦ ﺭُّﻭﺣِﻰ ﻓَﻘَﻌُﻮﺍْ ﻟَﻪُ ۥ ﺳَـٰﺠِﺪِﻳﻦَ
"Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruhKu, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud." (Al-Hijr: 29)
Allah meniupkan ruh (Zat-Nya) pada jasad Adam. Jelas sekali Allah itu bukan berupa Zat.
"Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki." (Q.S. Nur:35)
Apakah ALLAH itu NUR? Tentu tidak.
Zat Allah = Nur Ilahi = Roh Qudus
Tuhan dengan Cahaya-Nya ( roh ) tentulah Esa, tetapi Cahaya Tuhan itu, bukan Tuhan. Tuhan bukan berupa Cahaya
Zat Allah = ruh (pada manusia). Allah bukan berupa ruh atau zat. Pada manusia itu ada Zat Allah, tapi manusia bukan Allah.
I'tibar mendekatkan paham: Matahari dengan cahayanya esa. Maksud esa, antara matahari dengan cahaya tidak ada jarak-antara.Begitulah esanya ruh / zat Allah dan tubuh kita.
Matahari dengan cahayanya esa, tapi tidak seorang pun menyatakan sinar yang memantul di dinding rumah itu sebagai matahari. Tetapi orang memandangnya sebagai sinar cahaya matahari.
Tubuh kita esa dengan ruh Ruh / Nur Ilahi/Zat Allah/Cahaya Tuhan juga esa dengan Pemilik Cahaya
Sebab dikatakan kaum arif billah:
Mengaku diri Tuhan, kafir. Tidak mengaku esa dengan Tuhan, kufur
Allah = ismu Zat, nama bagi Zat. bukan ismu-Rabb.
"Tidak ada yang setara dengan Dia" (Al-Ikhlas:4)
"Tidak ada yang seumpama dengan Dia." (Ash-Shura:11)
kalau makhluk berupa zat-sifat-asma-afal. Tuhan juga berupa zat-sifat-asma-afal, maka sama jugakah umpama makhluk dan Tuhan?
Kalau makhluk itu wujud zat-sifat-asma-af'al Allah,
lalu Allah itu wujuf zat-sifat-asma-af'al siapa? Ada yang mendahului Allah maka itu mustahal
Tuhan tidak bernama, sebelum ada ciptaan, siapa yang mau menyebut-Nya Tuhan? Setiap makhluk ada nama, dari Pemberi Nama.
Tuhan tidak ada yang memberi nama, kecuali Diri-Nya sendiri memberi nama(untuk keperluan makhluk)
Sebab esa Tuhan dg Nur/Zat-Nya, Allah menyebut Diri-Nya dengan sebutan Zat-nya, yaitu "Allah".
Tapi tetap bahwa Tuhan itu bukan Zat JIKA TUHAN ITU BUKAN ZAT, MAKA APALAH ALLAH ITU?
Maka Rabbul Izzati itulah Zat-nya Zat. Terlebih Maha Meliputi, Terlebih Laysakamitslii syaiun daripada Zat ciptaan-Nya.
Zat-nya zat, berarti bukan zat.
Zat-Nya saja sudah bersifat tiada seumpama, apalagi Tuhan, Rabbul Izzati
Itu sebabnya ada perkataan, "Jangan kau pikirkan tentang Zat Allah,"
Bukan tidak boleh, tapi memang mustahil mengenal Zat guna pikiran.
Ini baru soal Zat-Nya, apalagi jika memikirkan Tuhan sekalian Zat/Rabbul Izzati yang terlebih Maha Lasyakamitslihisyaiun.
(AWALUDDIN MA'RIFATULLAH)
Artinya: awal agama mengenal Allah.
Dengan apa Allah dikenal? Dengan tiga perkara :
» 1),tahu akan "TUBUH".
» 2) tahu akan "HATI".
» 3). tahu akan "NYAWA".
Ada berapa pembagian tubuh? Tubuh dibagi tiga :
»1) Tubuh yang kasar.
»2) Tubuh yang halus.
»3) Tubuh yang bathin.
Maksud tubuh kepada hati. Maksud hati kepada nyawa. Maksud nyawa kepada Allah.
Berapa jalan manuju kehadirat Allah? Jalan menuju kehadirat Allah itu ada empat :
» 1) SYAREAT - Tubuh kasar
» 2) THAREKAT- Tubuh halus
» 3) HAKEKAT. -Tubuh bathin
» 4) MAKRIFAT - Tubuh hissi
SYAREAT : "JADI TUBUH".
THAREKAT : "JADI HATI".
HAKIKAT: "JADI NYAWA".
MAKRIFAT: "JADI RAHASIA".
A L L A H
ALIF : Aku dzat menjadi cahaya, menjadi rahasia.
LAM AWAL : Aku sifat jadi tubuh, menjadi ruh.
LAM AKHIR : Aku asma jadi ilmu, jadi iman.
HA : Aku af'al jadi kelakuan, jadi hati.
Matinya yang empat itu :
SYAREAT : kuburnya "Dibumi yang tak berpijak".
THARIKAT : kuburnya "Dilangit tak berbintang".
HAKIKAT : kuburnya "Diangin tak berhembus"
MAKRIFAT :  kuburnya "Dilaut tak berombak".
SYAREAT: Zikirnya "LAA ILAHA ILLALLAH".
THAREKAT: Zikirnya "ALLAH ALLAH".
HAKIKAT: "HU ALLAH".
MAKRIFAT: Zikirnya "Tiada berhuruf, tiada bersuara, lenyap selenyapnya, karam sekaramnya".
Nafas pada hidung, keluar pujinya : ALLAH.
Tanafas pada kerongkong masuk pujinya : HUWA.
Anafas pada ujung hati, keluar masuk pujinya: ILLA.
Nufus pada pusat, pujinya: HAQ.
Nafas KELUAR MASUK ini hakikatnya ADAM DZAHIR, tujuanNya meleburkan tubuh jadi hati.
Nafas KELUAR TIADA MASUK ini hakikat MUHAMMAD DZAHIR, tujuanNya meleburkan hati menjadi nyawa.
Nafas MASUK TIADA KELUAR ini hakikat MUHAMMAD BATHIN, tujuanNya leburkan nyawa jadikan sirr/rahasia
Nafas DIAM hakikat SIRR ATAU RAHASIA, tujuanNya meleburkan sirr/rahasia menjadi nur/cahaya.
TUDIBBULBADANI HAJJA ALA QALBI.
Artinya : hancurlah badan jadi HATI
TUDIBBUL QALBI SHARAR RUHI
Artinya, hancurkan hati jadi RUH.
TUDIBBUR ROHI SHARAN NUR
Hancurkan ruh jadi cahaya
Cahaya itu:
Tiada berhuruf tiada bersuara
Tiada warna tiada bau
Tiada atas tiada bawah
Tiada kiri tiada kanan
Tiada timur tiada barat
Bukan ruang bukan waktu
Bukan ukuran bukan timbangan
Bukan arah bukan jarak
Sumber:
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1393541734062025&id=136135606469317
Share:

Bismillah

Bismillah

Assalamu'alaikum Warahmatulahi Wabarakatu.

Bismillahirrahmanirrahim
Allahummashalli 'alaa Muhammad wa'alaa aalihi wa ashabihi wadlurriyatihi
washallim.
  

“Alhamdulillahi nasta’iinuhu wanastagh firuhu wana’uudzubillaahi min syuruuri anfusinaa waminsayyi ati a’ maalinaa man yahdihillahu falaa mudhilla lahu waman yudhlil falaa haadiya lahu, asyhadu anlaa ilaha illallaahu wah dahulaa syariikalahu wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhuu warasuuluhu la nabiya ba’da.”


"BISMILLAHIRRAHMAN NIRROHIIM" Dengan nama ALLAH yang maha pemurah lagi maha mengasihani......

Mukjizat di balik BISMILLAH...

BISMILLAH adalah sebutan/nama dari lafaz "BISMILLAHIRRAHMAN NIRROHIM" yang bermaksud 'Dengan nama ALLAH yang maha pengasih lagi maha penyayang'..

KELEBIHAN-KELEBIHAN BISMILLAH:-

1.Yang pertama ditulis dalam kalam adalah BISMILLAH.Maka apabila kamu menulis sesuatu, maka tulislah BISMILLAH pada awalnya kerana BISMILLAH tertulis pada setiap wahyu yang Allah turunkan kepada Jibrail.

2.BISMILLAH untukmu dan ummahmu, suruhlah mereka apabila memohon sesuatu dengan BISMILLAH. Aku tidak akan meninggalkannya sekejap mata pun sejak BISMILLAH diturunkan kepada Adam.(Hadis Qudsi)

3.Tatkala BISMILLAH diturunkan kedunia, maka semua awan berlari kearah barat, angin terdiam, air laut bergelora, mendengarkan seluruh binatang terlempar semua syaitan.

4.Demi Allah dan keagunganNya, tidaklah BISMILLAH itu dibacakan pada orng sakit melainkan menjadi ubat untuknya dan tidaklah BISMILLAH dibacakan di atas sesuatu melainkan Allah beri berkat ke atasnya.

5.Barangsiapa yang ingin hidup bahagia dan mati syahid, maka bacalah BISMILLAH setiap kali memulakan sesuatu perkara yang baik.

6.Jumlah huruf dalam BISMILLAH ada 19 huruf dan malaikat penjaga neraka ada 19 (QS.AL Muddatsir:30).Ibnu Mas'ud berkata:"Sesiapa yang ingin Allah selamatkan dari 19 malaikat neraka maka bacalah BISMILLAH setiap hari.

7.Tiap huruf BISMILLAH ada JUNNAH (penjaga/khadam) hingga tiap huruf berkata"Siapa yang membaca BISMILLAH maka kamilah kekuatannya dan kamilah kehebatannya.

8.Barangsiapa yang memuliakan tulisan BISMILLAH nescaya Allah akan mengangkat namanya di syurga yang sangat tinggi dan diampunkan segala dosa kedua orang tuanya.

9.Barangsiapa yang membaca BISMILLAH maka akan bertasbihlah segala gunung kepadanya.

10.Barangsiapa yang membaca BISMILLAH sebanyak 21 kali ketika hendak tidur, maka akan terpelihara dari gangguan syaitan, kecurian kan kebakaran, maut mendadak dan bala.

 Dalam kalimat "basmalah" terdapat beberapa kata kunci, yakni

 (Bi_Ism_ALLAH_Ar-Rahman_Ar-Rahiim), 

Untuk memahami rahasianya sebaiknya kita uraikan dulu satu persatu makna per kata-nya: 


1) "Bi' : 

artinya dengan, bersama. Kebersamaan yang mutlak, tidak bisa tidak kita selalu dalam lingkup DzatNya, jadi tidak mungkin kita tidak bersama Allah.



 2) "Ism" : 

artinya nama. Akar katanya ada banyak, namun yang paling tepat dan cocok ada 2, yakni kata "summu" artinya "tinggi, dan "bimmah" artinya "tanda". Jadi jika digabung berarti "dengan tanda", "dengan ketinggian" (seperti contoh dalam Qur'an kata "sammawati"), siapakah yang dimaksud disini??? Yakni ALLAH. Lalu pertanyaannya, kenapa harus disisipi kata "ism"? Sedangkan tanpa disisipipun sebenarnya tidak masalah atau artinya sudah menyebutkan DzatNya selalu bersama. Nah, inilah rahasianya... Mari kita kaji, Di dalam kithah kita sebagai manusia di dunia ini, secara Dzatnya Allah sesungguhnya kita ini sama sekali belum bersentuhan. 

Contoh : Allah Maha Suci, sudahkah kita ini suci??? jawabnya pasti BELUM. Maka adanya kata "ism" diantara kata "Bi" dan "Allah" maksudnya adalah apapun nantinya yang kita wujudkan, kita jadikan, kita lakukan, kita kerjakan adalah semata-mata merupakan wujud dari Allah, tanda dari dzatnya Allah. 

Contoh: Langit dan bumi hanyalah "tanda" bahwa Allah itu ada, kita inipun hanya "tanda". Kita berkarya, kemudian hasil karya yang muncul hanyalah "tanda" yang mana saat ini belum bersentuhan langsung dengan kemurnian Dzatnya Allah. Jadi kata "ism" hanya "nama" saja, bukan pada DzatNya. Inilah yang disebut "Ismu Dzat". Jadi segala sesuatu yang dilakukan dan yang diawali dengan menyebut "nama" ini diharapkan "ketinggian" atau "tanda"nya yang sangat tidak terbatas melekat pada apa saja yang dilakukan agar selalu bersama Allah. Inilah salah satu hakekat konsep hablumminallah. Dalam arti lain adalah mensyiratkan ketergantungan karena tanpa adanya Allah tidak akan mampu melakukan apapun itu. 

"Bismillah" di satu sisi mengakui adanya kekurangan/ kealphaan/ kelemahan kita. Di sisi lain kita jadi tahu bahwa ada Dzat yang Maha Kuasa dan Tidak Terbatas yang selalu menyertai langkah kita dan menyatakan akan kesempurnaan yang menyertai kita.


 3) "ALLAH" :

 Kata ini tidak memiliki akar kata, tapi ada sebagian ulama yang yang menafsirkan per hurufnya (huruf hijaiyah), dan untuk hal ini ada ilmunya untuk dibahas tersendiri. Yang jelas bahwa ALLAH itu Sangat Menakjubkan ciptaanNya, Sangat Mengherankan Dzatnya (karena jelas tak bisa dijangkau dengan akal) dan Sangat Sempurna ketaatan dari yang diciptakanNya. 

Mulai dari orbit benda-benda besar di langit hingga orbitnya molekul-molekul terkecil dan terdalam yang ada di bumi semuanya tunduk patuh hanya kepadaNya. Intinya penyisipan kata "ism" ini menjadi sangat jelas dan tegas bahwa yang tersentuh kita sebenarnya hanyalah AF'AL-NYA saja. Oleh sebab itu diartikan "dengan nama" bukan "dengan DzatNya". Kemudian mengenai "Ar-Rahmaan Ar-Rahiim", dalam surat Al-Fathihah disebutkan sebanyak 2 kali. Merupakan 2 kata yang berasal dari akar kata yang sama yaitu 


"Rahmat".."Kasih".."Cinta". > Ar-Rahmaan Ar-Rahiim pada "basmallah" menunjukkan Sifat dari DzatNya. > Ar-Rahmaan Ar-Rahiim pada ayat ke-3 menunjukkan Sifat dari Af'al-Nya. Disinilah perbedaannya, untuk memudahkan pemahaman sebagai berikut... 


4) "Ar Rahmaan" 

Memiliki sendi "kesempurnaan" juga "kesementaraan". Terbukti bahwa selalu berarti tunggal, tidak bisa jamak karena memiliki sendi kesempurnaan. Maksudnya kasih Allah itu sempurna nggak pilih-pilih atau pandang bulu kepada semua makhlukNya. Kalaupun tidak sempurna kasihNya itu dikarenakan posisi dari si makhluk yang tidak benar. Dan kasihNya menyentuh semua makhlukNya sama rata dan tunggal, tapi sifatnya sementara karena posisi obyeknya yang salah. 

Contoh: Sinar matahari. Semua yang ada di bumi ini mendapatkan porsi yang sama dari sinar matahari, yang menjadikan tidak sama karena salah posisi dari obyeknya. Orang yang ada diluar rumah dengan orang yang ada di dalam rumah tentunya lebih banyak mendapatkan curahan sinar matahari orang yang ada di luar rumah bukan?? 

Kemudian semua planet di tata surya juga mendapatkan curahan cahaya matahari yang sama banyaknya, namun karena posisi dari obyeknya berubah-ubah maka menjadikan seolah-olah sifatnya sementara, saat ini terang (siang) sesaat kemudian gelap (malam), begitu seterusnya. Dan kebanyakan manusia itu sungguh aneh tapi nyata, ketika tingkatan cahayanya dinaikkan maka kebanyakan menjadi seperti "kelelawar" (bahasa jawa: codot) yang sangat takut pada cahaya (=petunjuk), semakin terang cahayanya malah semakin takut dan lari menjauh, dia lebih nyaman di dalam "kegelapan". Inilah yang disindir berkali-kali dalam Al-Qur'an bahwa kebanyakn manusia itu berada dalam kerugian dan kesesatan yang nyata. 


5) "Ar Rahiim" 

Kata ini tidak menyentuh makhluk karena dia bersama dengan DzatNya, asumsinya murni ruhaniyah, maka ada sebagian ulama yang menyatakan "Ar Rahiim" adalah kasih Allah di akhirat nanti. Sifatnya mutlak, tidak berubah-ubah dan berkesinambungan. 

Misal: ada orang yang memang sifat aslinya dermawan kemudian sekaligus mewujudkan sifatnya tersebut dengan melalui beramal. Tapi ada juga yang sebaliknya yakni orang yang sebenarnya sifatnya kikir suatu ketika juga bisa beramal. Nah, Allah itu ibaratnya seperti yang pertama, yakni meliputi luar (Ar Rahmaan) dan dalam (Ar Rahiim). 

Jadi orang mengucap "basmallah" tahu benar bahwa semua dari Allah, akan lebur hanya "tanda" dari kuasa Allah. Semua hasil karya, hasil usaha adalah hanyalah "tanda" adanya Allah. Inilah konsep "fana fillah" kefanaan diri yang ada hanya Allah, semua dari Allah, bersama Allah, untuk Allah dan oleh Allah. 

Seperti yang pernah diajarkan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga bahwa "yang dipandang adalah yang memandang, yang memandang adalah yang dipandang"... Jika dalam sholat, "Inni wajjahtu wajhiya lillaah...". Akhir kata... penjelasan mengenai "basmallah" yang saya sampaikan disini, sesungguhnya ringkasan dari apa yang telah diajarkan oleh Guru


Wallahu'alam


Barakallahu Fikum  
Wasalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatu

 

 Bismillahirrahmanirrahim...
Allahumma shallii alaa Muhammad Nabiyyil ummi wa barik 'alaihi wasallim
Allahumma shallii 'alaa Muhammad Wa umma wabarik 'alaihi wasallim
Allahumma shallii 'alaa Muhammad Biadadi man shalla' alaihi wasallim
Allahumma shallii 'alaa Muhammad Biadadi man lam an yushalli 'alaihi wasallim
Allahumma shallii 'alaa Muhammad kama tuhibbu an yushalli 'alaihi wassallim
Allahumma shallii 'alaa Muhammad kama amarta an yushalli 'alaihi wasallim

Allahumma shallii 'alaa Muhammad kama yasbaqhis shalawatu 'alaihi wasallim.
Allahumma shalli 'alaa Muhammadin wa'ala ali Muhammadin kamasollaita'ala Ibrahim.
Wabarik'ala Muhammadin wa'ala ali Muhammadin kamabarakta'ala Ibrahima fil'alamin.
innaka hamidunmajid
amiin Ya Karim
amiin Ya Wahhab..amiin Ya "Alimun

Share:

Janganlah Kau Ejek Saudara mu



"Jika kau lihat seseorang jauh dari Tuhan Nya jangan kau ejek dia. Allah SWT lebih dekat kepada pendosa ketimbang orang orang yang sombong." (Habib Umar bin Hafidz)
https://youtu.be/hn1NE9SgMzM
Berprasangka baiklah kepada siapapun juga.
Karena hidayah Allah SWT akan turun kepada siapa saja yang di kehendaki Nya.
Allah SWT Maha berkehendak dan Maha membolak-balikkan hati hamba Nya.
Semoga kita semua senantiasa memiliki 3 rasa takut :
1. Tidak mensyukuri nikmat sehat dan iman. Dan nikmat tersebut tidak digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
.
Semoga Allah SWT memberikan sehat wal afiat yaitu sehat dan senantiasa bersyukur beribadah kepada Allah SWT.
.
2. Akhir yang suul khotimah. Semoga kita diberi kan Khusnul Khatimah.
.
3. Mendzolimi orang lain dan makhluk Nya.
.
Perbanyak lah kita bermohon ampunan kepada Allah SWT dengan dzikir doa Nabi Yunus AS.
.
Ya hayyu ya qayuum
Laa Ilaha Illa Anta Subhanaka Inni Kuntu Minadzolimin
لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ
Artinya : “Tidak ada Yang yang sesungguhnya disembah tetapi engkau, ya Allah. Tulisan Suci engkau, sesungguhnya saya yakni dari orang yang membuat zalim.” (QS Al-Anbiya’ : 87)
.
ﺁﻟﻠّﻬُﻢَ ﺻَﻠّﯿﮱِ ﯛﺳَﻠّﻢْ ﻋَﻠﮱِ ﺳَﻴّﺪﻧَﺂ ﻣُﺤَﻤّﺪْ ﻭَ ﻋَﻠﮱ ﺁﻝِﺳَﻴّﺪﻧَﺂ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ
.
https://youtu.be/hn1NE9SgMzM
Share:

Jadwal Sholat

Popular Posts

Label

Arsip Blog

Recent Posts

Pages

Blog Archive

Categories